Tuesday, August 25, 2020

Lelaki gagah

 Siapa lelaki gagah yang sebenarnya?

Ia yang mampu menelan habis amarahnya, sedihnya, pedihnya dan sakitnya. Sehingga yang muncul hanyalah senyuman, ketenangan dan ketentraman.


Wednesday, March 11, 2020

Pendapatan dan Nikmat Alloh

Pendapatan boleh terbatas, tapi nikmat / rizki Alloh itu tak terbatas. 

Sae nopo sae?

Paseksen tiang sae nopo sae niku biasanipun diaturne kagem tiang ingkang sampun kapundut. Menawi jenengan tasek sugeng gih ampun arep-arep diaturi paseksen tiang sae.

 وكفى بالله شهيدا

Friday, July 12, 2019

Doa

Rafa, Rafi dan Rojih


Sons,
Kalian adalah anugerah dari Dzat yang Maha mengabulkan do'a.

Maka jadikan do'a sebagai pedang untuk mengalahkan segala halang rintang dalam menggapai mimpi-mimpimu.

Dan ridho Allah SWT adalah sebaik-baik impian.

Friday, February 12, 2016

Eling Lan Waspada

Emas tidak pernah berkata saya adalah benda berharga. Intan juga tak pernah mengatakan saya ini benda yang indah. (sampai di sini mungkin Anda yang menjawab, Ya iya lah, orang gak bisa ngomong! He...) Tapi apa yang terjadi, keduanya selalu dicari oleh manusia, karena keduanya memang berharga.

Kita sering mendengar dan mungkin juga melakukannya sendiri, seseorang setiap kali bicara, setiap kata-kata yang dikeluarkannya adalah dalam rangka memuji diri sendiri, agar terlihat lebih hebat dari yang mendengar atau yang lainnya. Dan pasangannya adalah melemahkan dan pembunuhan karakter orang lain. Dan keduanya adalah jalan pintas bagi orang-orang yang ingin diwowkan oleh orang lain.
Sekejap mungkin orang lain akan meng-iya-kan. Tapi bila itu terjadi berulang-ulang, maka orang lain toh juga akan menyadari, bahwa itu hanyalah seperti iklan yang bolak-balik nongol dalam sebuah acara di televisi.

Kadangkala kita lupa perbedaan "ingin" dan "merasa". Dua kata yang memang berbeda, namun penerapannya dalam hati sering kali salah tempat. Misal, "saya ingin menjadi baik", terkadang di dalam hati berbunyi "Saya rasa, saya ini orang baik". "Saya ingin jadi orang benar", terkadang menjadi "Saya lah yang benar". 

Bukan merasa-nya yang salah, tapi apa yang dirasa-nya yang salah. Kita sering mendengar wejangan Bisaha rumangsa, aja rumangsa bisa. Tapi terkadang yang terjadi adalah, kita memang sudah bisa rumangsa, cuma rumangsa-nya rumangsa bisa. Lantas bagaimana kalau sudah seperti itu?

Urusan hati, hanya Allah yang tahu. Dlemingan di atas sebenarnya saya sampaikan untuk diri saya sendiri. Urusan benar dan salah, bila tempatnya dalam hati itu hanya berbatas sehelai rambut. Ketika kita tidak eling lan waspada, bisa jadi semua yang kita lakukan menjadi sia-sia.

Mohon koreksi.

Tuesday, February 9, 2016

Mimpi yang Akan Tetap Menyala #InternetSehat

Sebelum kita bicara tentang Internet Sehat, terlebih dulu saya ingin menyampaikan apresiasi saya yang setinggi-tingginya kepada para teman-teman yang sangat berdedikasi dalam upaya ikut mengambil peran dalam pembangunan Kabupaten Bojonegoro melalui dunia internet. Saya belum pernah sekalipun bergabung dengan kegiatan yang mereka adakan, namun selalu mengikuti perkembangannya melalui website dan group-group facebook yang ada. Mereka adalah sebuah komunitas yang tergabung dalam Relawan TIK Bojonegoro dan juga Blogger Bojonegoro. Ruh Pengabdian terasa kental sekali bila dilihat dari semua kegiatan yang mereka lakukan. Dan secara langsung, ini adalah contoh nyata dari Internet Sehat.

Entah yang akan saya ceritakan di sini termasuk dalam kategori Internet Sehat, ataukah justru hanyalah hura-hura dan kesia-siaan belaka. Jauh sebelum dunia internet sedahsyat seperti sekarang ini, hobi menulis saya sebenarnya sudah mulai tumbuh. Yaitu saat saya mulai menginjakkan kaki di bangku madrasah aliyah. Di sebuah mading usang, saya sering mempublikasikan tulisan saya. Namun kemampuan menulis saya lambat sekali perkembangannya, mungkin karena saat itu saya tidak tahu kemana saya harus belajar menulis. Dan ironisnya keadaan seperti itu terus berlanjut, saat saya kuliah. Bahkan sampai saat saya telah menikah, saya baru benar-benar dekat dengan internet sebagai media belajar.

Dari situ, saya mulai belajar tentang banyak hal dari internet. Sangat manusiawi, bila kemudian saya betah berlama-lama surfing di dunia maya, mengingat di situ saya mendapati banyak hal yang baru saya ketahui, tentang ini dan itu. Bukankah sifat manusia itu memang senang dengan segala sesuatu yang baru.

Saya mulai belajar blogging dengan tujuan sederhana, yakni untuk menampung coretan-coretan saya. Sambil posting-posting tulisan, saya juga mencari literatur tentang kepenulisan. Bagaimana cara menulis yang baik dan benar.

Hingga kemudian saya berjumpa dengan blog seorang owner penerbit mayor. Dari situ saya mengetahui info bahwa penerbit tersebut sedang mengadakan event menulis #FromZeroToHero. Saya pun ikut berpartisipasi dalam event tersebut. Dan alhamdulillah tulisan saya yang saya beri judul Man Jadda Pasti Wajada termasuk salah satu yang diterima untuk dimasukkan ke dalam sebuah antologi dengan judul Dream To Be a Hero. Ini memang belum apa-apa, tapi setidaknya mimpi saya untuk bisa menembus penerbit mayor sudah sedikit terkabul. Bahwa ada secuil tulisan saya yang sudah terpampang di sebuah buku yang diterbitkan oleh Penerbit Mayor. Dan ini sedikit banyak turut menjaga saya untuk tetap bermimpi.

Saya tahu, menjadi penulis profesional tidaklah semudah mengumbar aib orang lain, oleh karena itu saya memanfaatkan internet sebaik-baiknya untuk belajar menulis. Tapi terkadang mimpi itu meredup juga, oleh karenanya saya mencoba menyalakannya lagi dengan menerbitkan sebuah buku melalui jalur indie. Hanya agar saya mau terus belajar menulis. Buku pertama adalah sebuah kumpulan cerpen yang berjudul Sayap Kupu-kupu, dan buku yang ke dua adalah buku cerita anak yang berjudul Sepeda untuk Fandi.

Oke, Kawan, secuil tulisan saya ini hanyalah tentang mimpi yang akan tetap menyala sampai kapanpun juga, tentang sebuah keyakinan dan perjuangan. Karena bagi saya, tak ada kata terlambat untuk belajar dan berkarya. (@alfarafa)


Sunday, January 3, 2016

Sayap Kupu-kupu

Sayap Kupu-kupu

Judul               : Sayap Kupu-kupu
Penulis             : @alfarafa
Penerbit           : Fiksi Press, Bojonegoro
Tebal               : 101 halaman
Harga              : Rp. 34.000,- (belum termasuk ongkos kirim)

“Pusaka itu adalah Nurani. Nurani yang ada di dalam setiap hati kita. Kita telah kehilangan nurani kita. Dan karenanya kita juga kehilangan yang namanya kesadaran. Kesadaran bahwa kita ini manusia. Bukan binatang, maka jangalah kita bersikap seperti binatang, marilah kita kembali menjadi manusia seutuhnya.Kita, yang manusia ini, mungkin perlu belajar banyak pada kupu-kupu. Indahnya sayap kupu-kupu itu tidak serta merta ada, tapi harus melalui proses yang panjang. Lihatlah! Kupu-kupu memahami betul tentang pentingnya sebuah proses, untuk mendapatkan sebuah keindahan dalam hidup, seperti indahnya sayap kupu-kupu.” 

Click HERE for detail!

Bening Senja

bening senja

Judul               : Sepeda untuk Fandi
Kategori          : Kumpulan Cerpen
Penulis             : Mohammad Haris Suhud
Penerbit           : Fiksi Press, Bojonegoro
Tebal               : 145 halaman
Harga              : Rp. 33.000,- (belum termasuk ongkos kirim)


"Barangkali kita diciptakan hanya untuk sebuah pertemuan dan menangisi kepergian. Dan kita, tak pernah memiliki apapun di dunia ini." Buku ini merangkum mozaik kehidupan dengan cuplikan peristiwa di sekitar kita, yang mungkin akan terus berulang-ulang. Setelah membaca buku ini, hendaknya kau simpan. Jangan kau buang! Selamat membaca....

Sajak dan Hikayat Sinta

Sajak dan Hikayat Sinta

Judul               : Sajak dan Hikayat Sinta
Penulis             : Mohammad Haris Suhud
Penerbit           : Fiksi Press, Bojonegoro
Tebal               : 119 halaman
Harga              : Rp. 33.000,- (belum termasuk ongkos kirim)

Aku yakin muasal segala adalah cahaya. Ada gelap sebab cahayanya terhalang. Hal cinta, sebelum tertutup bagian gelap hati, tak akan menimbulkan kegalauan dan kegelisahan. Cinta adalah matahari membias cahayanya mewujud sintamu dan sintaku: Sinta kita semua. Dan, yang matahari tak pernah hilang cahayannya, menjadi gelap di bumi hati.

Saturday, December 5, 2015

Feedback

Apa kabar, Kawan? Saya harap Anda sedang dalam keadaan sehat, dan aman dari segala bentuk gegana, gelisah, galau, merana, yang sebenarnya tengah saya alami saat ini.
Sebagaimana judul tulisan ini, kegelisahan saya adalah tentang feedback atau umpan balik yang saya harapkan datang dari Anda, dia, dan mereka.

Feedback, bagaimanapun bentuknya, menyenangkan ataupun menyakitkan, sebenarnya adalah sesuatu yang sangat berharga, bagi saya dan orang-orang yang masih berada pada tahap belajar.

sumber gambar : www.tradeitstores.com

Karena saya menyadari, tulisan-tulisan saya di blog ini masih banyak sekali kekurangannya, karenanya feedback yang berwujud kritik, saran dan cemoohan begitu saya rindukan, supaya saya bisa belajar dari feedback tersebut. Bila Anda sudah menjelajahi seluruh isi blog ini, anda akan bisa menghitung dengan jari Anda, berapa komentar yang ada di dalam blog ini. Betapa saya miskin feedback.
Sebagaimana iklan minuman segar yang ada di layar kaca saat kita sedang kehausan, seperti itulah gambaran feed back yang ada dalam benak saya saat ini. Begitu menggiurkan. Karena saya sedang haus,  saya merasa begitu membutuhkan minuman itu. Dan tentu iklan minuman segar tersebut tak berarti apa-apa bagi orang yang tidak sedang merasa kehausan. Dan juga sebagaimana saya membutuhkan makanan, apapun itu, saat saya sedang merasa kelaparan.

Pada situs-situs besar, juga sering saya temui ucapan terimakasih di sana, ketika kita memberikan sebuah feed back pada mereka. Hal ini semakin membuktikan bahwa feedback memanglah teramat penting bagi mereka yang selalu ingin berbenah diri dan merasa belum sempurna.
Dalam kehidupan nyata, feedback yang berupa kritik, saran dan cemoohan seringkali ditolak mentah-mentah dengan emotikon muka berwarna merah. Iya, saya hanya bilang sering, tidak selalu. Sebaliknya, feedback manis akan mendapatkan sambutan hangat dengan kedua tangan.

Dan saya sendiri, khususnya, secara tidak sadar telah memperlakukan feedback seperti itu. Mungkin, karena sikap saya yang seperti itu, perjalanan belajar saya dalam dunia blogging, tulis menulis dan proses belajar saya dalam kehidupan nyata mengalami stagnasi, alias macet.

So, please, give me a feedback to all of my articel on comment box. :)

Tuesday, December 1, 2015

Luas Waktu = Tindakan Diri

Ada sebuah waktu dimana kita justru menertawakan tangis, saat kita berada sejengkal di depannya.

Ada sebuah waktu dimana kita merasa hidup kedua kalinya, setelah kita merasakan hidup ini seperti tlah mati.

Ada sebuah waktu dimana kita merayakan sepi, yang kesunyiannya memekakkan hati. Lalu kita berdoa, esok mentari terbit bersama sebuah harapan, meski kita tahu sepi akan merantai malamnya.

Ada sebuah waktu dimana mata terpejam, sedangkan hati berurai air mata, berusaha memahami dinding gelap di depan kita berpijak.

Ada sebuah waktu dimana kita tak mengerti irama detak jantung sendiri, dan kemana darah ini akan mengalir.

Ada sebuah waktu yang tak pernah terbersit sedikitpun wujudnya dalam imaji, namun ia membuka tangannya menyambut pelukmu.

Bila waktu ini sebuah permadani, maka keluasannya adalah tindakan diri. Kepadamu diserahkan, dengan apa kau meluaskannya.

Kawan, kita tak butuh sangkar emas untuk kita tinggali, kita hanya butuh tempat yang memberi kita ruang untuk mendendangkan suara hati, agar kita tak pernah lupa bahwa segumpal darah ini mesti berarti.

Sunday, November 15, 2015

Siapakah dia?



Siapakah dia, seseorang yang hatinya bergetar saat mendengar kabar bahwa janinmu telah ada di rahim ibumu? Lalu dia menyiapkan rencana-rencana terbaik untuk kehidupanmu dan hatinya bertekad mengerahkan seluruh tenaganya demi kebahagiaanmu.

Siapakah dia, seseorang yang lenyap seketika lelah dan sedihnya, hanya karena melihat wajahmu?

Siapakah dia, seseorang yang selalu siap siaga, saat kau membutuhkan bantuan?
Siapa lagi kalau bukan "Ayah".

Seseorang yang memberikan seluruh tenaganya, demi memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Dan ia sama sekali tak merasa sedih ataupun kecewa, manakala ia harus menjadi yang ke empat setelah ibumu.

Ayah adalah seseorang yang menyimpan kesedihannya untuk dirinya sendiri, dan menjadikan kebahagiaanmu sebagai impiannya.
Saat kau mulai tumbuh menjadi remaja (yang gagah di matanya), ia mulai merasa gelisah, karena kau mulai malu untuk diciuminya, sedangkan hasratnya untuk menciummu, masih sama seperti saat kau masih bayi. Karenanya, ia melampiaskan kerinduannya kepada anak-anakmu, cucunya.

Ayah, bila ibu adalah jantungku, engkaulah darahku. Darah juangmu kini mengalir deras di diriku.

Selamat Hari Ayah, 12 November 2015.

www.sesuatu.my.id

Friday, April 10, 2015

Keindahan yang Terabaikan

Setiris Ironi

"Kau memang tak adil," suara kotak amal siang ini terdengar serak.
"Gak adil gimana?" tanyaku balik.
"Berapa harga rokok yang setiap hari kau beli itu?"
"Emangnya kenapa?" kujawab lagi dengan pertanyaan. Kali ini raut mukanya bercampur kesal.
"Lima belas ribu rupiah?"
"Kurang dikit lah. Cuma tiga belas ribu lima ratus rupiah."
"Bila dikali tujuh kali?"
"Sembilan puluh empat ribu lima ratus. Emangnya kenapa?" tanyaku mulai kesal.
"Oke. Berarti dalam seminggu uang kau keluarkan untuk beli rokok sembilan puluh empat ribu lima ratus. Saya mau tanya, berapa amal jariyah yang kau masukkan padaku tiap hari Jumat?"
"….%&$#%-&$%&$$&...."

"Bahkan, pada dirimu sendiri pun kau tak bisa berbuat adil," ia tersenyum kecut melirikku.

"

Thursday, March 12, 2015

Menunggu

Sumber Gambar http://menjadiberlimpah.blogspot.com
Detik-detik seperti sedang berjalan melambat. Ia kini menyerupai "jam". Iya, satu detik rasanya seperti satu jam. Saat aku termangu sendiri, menunggu kedatanganmu. Kusandarkan punggungku di dinding. Perlahan merosot ke bawah. Sedangkan tanganku secara tak sadar mencengkeram rambutku, serupa orang yang sedang sakau. Kerinduan yang menggilakan keadaanku kini, tak berarti apa-apa di hadapanmu. Kini kau hanya asyik dengan kehidupanmu sendiri. Tubuhku pun menggeliat dan terjatuh ke lantai. Dan kau seolah tak menganggapku ada. "Sayang, gantian dong toiletnya!!!" Pekiku keras sekali. Dan .... Preettt.... Brottt.... Ku rasa aku sudah beol di celana.

Monday, February 9, 2015

Menangkap Masa Depan



Hi, Guys, kita semua tahu, setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan. Dan karena keduanya itulah, penting bagi kita untuk mengenali diri agar bisa survive di masa depan. (Penting Ya?!)

Masa-masa sekolah seperti yang kamu jalani saat ini memang indah bukan? What’s? Kamu sedang jomblo? Dan karena kejombloan itu lantas kamu bilang kehidupanmu gak indah? Yakin?!

Saat ini seakan-akan telah terbuat kesepakatan umum, bahwa jomblo adalah ngenes, ngenes adalah jomblo. Dan selihai apapun jombloers mencoba untuk menampangkan kebahagiaan, sepertinya orang sekitar juga tetap akan menganggap para jombloers ngenes. Tapi coba deh dipikir lagi, tuduhan itu jelas tak beralasan kuat khan? Sebenarnya kamu tetap bisa kok mengelak. Untuk urusan yang satu itu kamu emang kudu kreatif membangun kekuatan agar tak terluka karena buli orang-orang sekitar kamu. Bisa kamu aja kamu katakan “Gue ini High Quality Jomblo”, “Meski jomblo, tapi gue tetep keren..”, atau juga bisa aja kamu katakan “Banyak yang ngantri ma gue, cuman belum ada yang cocok ajah..”. Yah, pokoknya bikin sekreatif mungkin lah, dan kamu kudu bisa menyakinkan mereka semua. 

Stop!! Kembali ke topik ya, Guys. Ada yang mengatakan bahwa sukses itu adalah ketika kesempatan yang datang berjodoh dengan kemampuan yang kamu miliki. Percuma khan, ketika datang kesempatan untuk meraih kesuksesan, namun kamu gak bisa menangkap tuh peluang, hanya karena kamu gak punya sesuatu untuk menangkap. Apakah sesuatu itu? Ya, potensi kamu.

Lanjut. So, untuk mengantisipasi supaya itu gak terjadi padamu, langkah pertama yang bisa kamu lakukan adalah mengenali diri. (Tapi gue kan udah kenal ma gue sendiri?” Yakin? Mari kita lanjutkan apa bener kamu udah ngenalin diri kamu sendiri. Mudah ada, jawab aja beberapa pertanyaan di bawah ini! Jangan nyontek temen sebelah kamu ya.

Pertama, apa aja kelebihan yang ada pada dirimu?

Inventarisir semua kelebihan yang ada padamu, meski se kecil biji dzarrohpun, tulislah. Jangan sungkan untuk mengakui kalo itu adalah kelebihan kamu. Oke, udah ada 10 lebih daftar kelebihan kamu yang udah kamu catat. Lanjut.

Ke dua, apa aja kelemahan kamu?

Harus adil dong, kalo tadi kamu menulis semua kelebihan yang kamu miliki, sekarang kebalikannya, tulis semua kelemahan yang kamu miliki. Dan tentu, sekecil biji dzarrohpun kelemahan itu, tetep kudu kamu tulis. Baik, sekarang sudah ada 20 lebih daftar kelemahanmu yang udah kamu catat. Lebik banyak ya? No problem, kok.

Sambil kamu melanjutkan membaca, gak mengapa bila kamu ingin menambahkan kedua daftar di atas, bila ada yang baru keingat. Suka kentut sembarangan, misal. :p. Skip. Dari kedua daftar yang ada itu, yang bisa kamu lakukan tentunya adalah memaksimalkan semua kelebihan yang kamu miliki, dan meminimalkan kelemahan yang ada.

Ada juga kelemahan yang bisa kamu sulap menjadi kekuatan. Sebut aja Narji, misalnya. Selain memang ia memiliki bakat ngelawak, ia juga memanfaatkan keje**ekan wajahnya untuk mendukung lawakannya. Nah, itu namanya cerdas. Menyulap kelemahan menjadi kelebihan. Bisa?

Kembangkan semua kelebihan itu, sampai kau temukan passionmu. Iya... Sesuatu yang paling cocok denganmu. Itulah passionmu. Udah gitu, yang bisa kamu lakukan adalah terus mengembangkan passion kamu itu.

Baru nanti, ketika saatnya “kesempatan” untuk menuju kesuksesan yang berkesesuaian dengan kelebihan kamu itu datang, kamu udah dalam keadaan siap untuk menyambutnya. Oke guys, salam mendut.