Showing posts with label Flash Fiction. Show all posts
Showing posts with label Flash Fiction. Show all posts

Friday, April 10, 2015

Setiris Ironi

"Kau memang tak adil," suara kotak amal siang ini terdengar serak.
"Gak adil gimana?" tanyaku balik.
"Berapa harga rokok yang setiap hari kau beli itu?"
"Emangnya kenapa?" kujawab lagi dengan pertanyaan. Kali ini raut mukanya bercampur kesal.
"Lima belas ribu rupiah?"
"Kurang dikit lah. Cuma tiga belas ribu lima ratus rupiah."
"Bila dikali tujuh kali?"
"Sembilan puluh empat ribu lima ratus. Emangnya kenapa?" tanyaku mulai kesal.
"Oke. Berarti dalam seminggu uang kau keluarkan untuk beli rokok sembilan puluh empat ribu lima ratus. Saya mau tanya, berapa amal jariyah yang kau masukkan padaku tiap hari Jumat?"
"….%&$#%-&$%&$$&...."

"Bahkan, pada dirimu sendiri pun kau tak bisa berbuat adil," ia tersenyum kecut melirikku.

"

Thursday, March 12, 2015

Menunggu

Sumber Gambar http://menjadiberlimpah.blogspot.com
Detik-detik seperti sedang berjalan melambat. Ia kini menyerupai "jam". Iya, satu detik rasanya seperti satu jam. Saat aku termangu sendiri, menunggu kedatanganmu. Kusandarkan punggungku di dinding. Perlahan merosot ke bawah. Sedangkan tanganku secara tak sadar mencengkeram rambutku, serupa orang yang sedang sakau. Kerinduan yang menggilakan keadaanku kini, tak berarti apa-apa di hadapanmu. Kini kau hanya asyik dengan kehidupanmu sendiri. Tubuhku pun menggeliat dan terjatuh ke lantai. Dan kau seolah tak menganggapku ada. "Sayang, gantian dong toiletnya!!!" Pekiku keras sekali. Dan .... Preettt.... Brottt.... Ku rasa aku sudah beol di celana.

Wednesday, February 5, 2014

Cewek Macho dan Cowok Feminin


“Beb, ngapain sih lo dandan kayak cowok segala?”
“Kan, lo dulu yang mulai!”
“Kok jadi gue yang disalahin?”
“Yah, lo coba ngaca dulu dong, Say, lagak lo tu feminin banget!”
“Beb, lo jangan hina gue kayak gitu dong, omongan lo kasar banget sih? Gue ini cowok, Beb!”
“Tuh, kan? Jiwa lo tu feminin banget, tau nggak sih?”
“Lo kok tega banget sih, Beb, ngatain gue kayak gitu?”
“Gue nggak bermaksud ngata-ngatain lo.”
“Tapi kata-kata lo tuh, sumpah, bikin hati gue sakit banget!”
“Ya elah, katanya lo cowok? Kok baru gitu aja dah mau mewek sih?”
“Gue tu bukan feminin tauk? Gue tu cowok yang berhati lembut, apa itu salah?”
“Enggak, tapi itu artinya lo kayak banci. Makanya biar imbang, gue musti berlagak seperti cowok, biar hubungan kita tetap awet!”
Sambil nangis, ”Lo kok tega banget sih, Beb, bilang gue banci? Emangnya gue cowok apaan?”
“Lah iya, cowok banci! Makanya biar kita tetep balance, biarkan gue berpenampilan kayak cowok gini, biar gue bisa ngelindungin lo..! Gue nggak mau ada satupun makhluk di dunia ini yang bisa nyakitin lo, apalagi nyakitin hati lo yang lembut itu. Gue nggak mau ada yang bisa nyakitin lo, Say!  Gue Sayang ama lo...!!”