Showing posts with label Apakah ini sudah cerpen?. Show all posts
Showing posts with label Apakah ini sudah cerpen?. Show all posts

Monday, March 17, 2014

The City of Broken Dream

“Damn!!!,” Gavrilovich memukul-mukul setir mobilnya. Dia bersama tiga temannya yang lain baru saja melakukan penelitian di Kadykchan. Sebuah kota di wilayah Oblast, Magadan, Russia yang dibangun oleh narapidana gulag selama Perang Dunia II. Diantara mereka berempat, Agnessalah yang memiliki kaitan erat dengan kota itu. Kakek dan neneknya menjadi bagian dari para narapidana gulag itu.

“What’s wrong, Grav??” seorang gadis cantik berkalung cristal piramid menoleh padanya. Namanya Agnessa. Pandangannya tertuju pada wajah  Gavrilovich yang membersut.

“Berkas penelitian kita tertinggal di Kadykchan,” jawab Gavrilovich tanpa menoleh sedikitpun. Ia menebak respon ketiga temannya pasti tak akan menyenangkan kali ini.

“Ow Shit...!” Erast dan Dmitri yang duduk di belakang saling berpandangan. Kembali ke kota Kadykchan adalah konsekuensi yang wajib mereka tanggung karena keteledoran Gavrilovich.

“Kita harus kembali, Gavril!” tukas Agnessa tegas.

“What?!” Gavrilovich terkejut mendengar ucapan Agnessa. Jam tangannya menunjukkan sekarang sudah pukul tujuh malam. Waktu yang sudah cukup larut untuk sebuah perjalanan menuju ke kota Kadykchan. “Kita sudah terlalu jauh untuk kembali ke sana, Agnessa!”

“Dan besok adalah kesempatan terakhir kita untuk mempresentasikannya di depan Mr. Fredek, kau tau?” Erast menyela. Mr. Fredek adalah seorang dosen yang memberi mereka tugas untuk melakukan penelitian di kota Kadykchan terkait kemungkinan untuk kembali mengaktifkan penambangan batubara di sana.

“Kita harus kembali, Gavril!” Dmitri ikut mempertegas permintaan Agnessa.
“Damn it..” gerutu Gavrilovich lagi. Dengan cepat ia membanting setir mobilnya. Kaki kanannya menginjak pedal rem sedalam-dalamnya. Sedangkan tangan kanannya menarik tuas hand rem. Dengan sedikit aksi drifting, mobil sudah berhasil berbalik arah. Debu-debu tebal berterbangan di belakang mereka, roda mobil sempat mengusik tanah padas di kanan kiri jalan, saat mobilnya sempat berbalik arah tadi.  Gavrilovich mempercepat laju mobilnya. Dari atas terlihat seperti cahaya yang sedang membelah bumi. Sejauh mata memandang yang terlihat hanyalah gurun bertanah padas. Tebing-tebing banyak yang menjulang tinggi di kejauhan sana.

“Kalian tahu, kota itu telah mati? Tak ada satupun kehidupan di sana,” ujar Gavrilovich sambil memutar lagu Toxicity milik System Of A Down kesukaannya.Seekor kucing hitam tiba-tiba berjalan ke tengah jalan raya. Gavrilovich tak punya cukup waktu untuk menghindari kucing itu. Brrakk!! 

“Aa...!!” Agnessa menjerit.
Tanpa terduga kucing itu melompat di depan kaca depan mobil, mengerang beberapa saat, dan kemudian jatuh.

“Kucing kurang ajar!” teriak Gavrilovich. Diam-diam bulu kuduknya mulai berdiri. Agnessa juga seperti merasakan firasat yang kurang baik di hatinya.

Kota Kadykchan tinggal beberapa meter lagi. Agnessa menoleh ke kiri. Ia seperti melihat seseorang berambut selutut berdiri di seberang jalan. Ponselnya yang terjatuh karena keterkejutannya, tak segera ia ambil. Ia masih berusaha melihat tempat orang itu berdiri.

Gavrilovich membelokkan mobilnya ke kanan. Memasuki sebuah jalan sempit menuju ke pusat kota Kadykchan. Sebelum perang dunia II pecah, Kadykchan adalah kota impian. Timah dan Batubara yang melimpah ruah di sana seolah akan menjadi ruh abadi kegemerlapan kota Kadykchan. Namun ternyata kota Kadykchan perlahan menemui kematiannya setelah Uni Soviet runtuh. Segala impian tentang kota Kadykchan kini telah rusak, berubah menjadi kota kematian.

Sekarang tak ada seorang pun yang masih menghuni kota seluas itu. Bangunan-bangunan gedung besar dan tinggi tak terawat, ditambah dengan rerumputan yang meninggi memberikan kesan angker pada kota Kadykchan. Konon ada yang pernah melihat anak-anak berwajah pucat sedang bermain di taman. Ada juga yang pernah melihat sosok perempuan berbaju putih berbahan sutera, rambutnya terurai sepanjang lutut, giginya bertaring, wajahnya berlubang-lubang dengan ulat-ulat sebesar jari kelingking yang keluar masuk dari lubang-lubang di wajahnya itu. Satu lagi, matanya menyala merah.

Banyak yang mengatakan ia adalah salah satu dari puluhan wanita yang dijadikan budak nafsu para tentara Uni Soviet sebelum perang dunia II. Konon namanya Maria. Bila mereka sudah menua, butir-butir senjata laras panjang akan menembus kepala mereka. Meninggalkan bercak darah di dinding-dinding pemukiman. Termasuk Maria yang ditembak di bagian pipinya. Kejam sekali.

Dari mulut ke mulut terceritakan, orang yang memasuki ke kota itu di malam hari bisa dipastikan tak akan pernah pulang lagi.

Sebuah gedung tua berlantai lima terlihat begitu sinis menyambut kedatangan mereka. Di bagian atas tembok gedung itu, tergambar sebuah srigala merah yang tengah berlari. Dmitri enggan untuk melihatnya lebih lama lagi. Ia membuang pandanganya ke kanan. Ia menemui ada sebuah taman kecil lengkap dengan tempat bermain anak yang telah usang dan berkarat.

Gavrilovich menghentikan mobilnya tepat di depan gedung itu. Masih terlihat sangat kokoh dengan tiang-tiang penyangga yang berdiameter satu meteran itu. Sebuah lampu senter ia ambil dari balik dasbor mobilnya.

“Teman-teman, tempat ini sudah lama tak berpenghuni. Segala kemungkinan bisa saja terjadi malam ini. Saya ingin kita tetap berjalan bersama, apapun yang terjadi. Jangan sampai ada yang memisahkan diri. Oke?” pesan Gavrilovich beberapa detik sebelum mematikan lampu mobilnya. Pet. Dalam sekejap dunia sedemikian pekatnya. Kini tinggal lampu senter saja yang menyala.

Satu persatu mereka keluar dari mobil. Menyisakan Dmitri yang masih mendekam di dalam mobil. Erast sedikit membungkuk untuk melihat Dmitri.

“Hei, ayo keluar..., Dasar penakut kamu!” Erast membukakan pintu mobil.

“Siapa yang takut, aku hanya merasa capek sekali nih!” kilah Dmitri.

Dmitri maupun Erast tak menyadari, ada sosok vampir perempuan yang duduk di samping Dmitri. Rambutnya terurai hingga ke alas mobil. Matanya merah, taring panjangnya siap menghisap dari Dmitri. Dmitri hanya merinding di lehernya. Bergegas ia keluar dari mobil, menyusul Erast dan yang lain.
Agnessa menggandeng erat tangan kiri Gavrilovich. Mereka perlahan mendekati pintu masuk gedung itu. De depan gedung itu, tinggi rerumputan hampir setinggi lutut mereka. Benda-benda bekas berserakan dimana-mana.

Perlahan Gavrilovich membuka pintu. Kepakan sayap kelelawar yang terbang keluar di atas mereka, membuat Agnessa terkejut. Ia mempererat pegangannya pada Gavrilovich. Dmitri kini juga berpindah mendekati Gavrilovich. Ia tak mau menjadi orang terakhir yang memasuki gedung itu.

“Aa..aaa..aa!!!” Dmitri teriak sekeras-kerasnya. Dengan sigap Gavrilovich membungkam mulut Dmitri.

“Kenapa?”

“Ada yang mencekik leherku,” tukas Dmitri sambil memegangi lehernya. Erast cekikikan karena keusilannya untuk menakut-nakuti Dmitri membuahkan hasil.

“Kamu jangan macam-macam, Erast!” Dmitri mengancam.
Brak!! Tiba-tiba pintu itu menutup sendiri. Agnessa dan Dmitri menjerit. “Ssstt..! Tenang. Bukan apa-apa, hanya angin saja yang membuat pintu itu tertutup,” Gavrilovich mencoba menenangkan kedua temannya.

“Berkasnya kamu taruh di mana, Gavril?” tanya Agnessa.
Angin yang berhembus kecang, menerobos kaca-kaca jendela yang telah pecah. Di balik kegelapan, ada beberapa kawanan tikus yang menyaksikan mereka. Gavrilovich mengarahkan senternya ke segala arah. Meja-meja berdebu tertata tak beraturan di sana. Bahkan rak berkas itu sudah roboh, meski sempat tertahan meja di depannya. Banyak sekali berkas berserakan di bawahnya. Juga bau kotoran tikus begitu menyengat di hidung mereka.

Gavrilovich tak begitu ingat dimana menaruh tasnya tadi. Di tas itu Gavrilovich menaruh semua dokumen penelitian mereka. Ketika mereka observasi siang tadi, semua lantai mereka naiki. Jadi tas itu mempunyai kemungkinan yang sama untuk berada di lantai manapun.

Tiba-tiba suara anak-anak yang tertawa, dan seperti sedang bermain-main, terdengar jelas sekali di telinga mereka. Sontak mereka semua terkejut. Hanya dalam lima detik, suara itu menghilang. Suasana seketika kembali senyap.

“Ah, itu mungkin hanya halusinasi kita saja, tenang!” ujar Erast. Ada satu hal yang tak mereka sadari, kalau memang itu halusinasi, kenapa semua mendengarkan suara yang sama.

Mereka melanjutkan langkahnya menaiki tangga pertama gedung itu. Maria kian tak tahan menahan gairah untuk menghisap darah mereka. Sudah lama sekali ia tak merasakan darah segar. Ia melayang melintas di atas mereka. Ia berencana akan menghisap satu per satu darah mereka di lantai dua nanti.
Ia hanya butuh saat yang tepat untuk melakukan materialisasi tubuhnya. Materialisasi ia butuhkan untuk bisa menghisap darah manusia. Ia tak mungkin menghisapnya dalam kondisi dematerial. Ia telah menggantung di plafon lantai dua. Kepalanya berada di bawah, sedangkan kedua telapak kakinya menempel di plafon. Rambut panjangnya terurai ke bawah.

Sorot senter mulai memasuki lantai dua. Gavrilovich menyorotkan senternya ke seluruh penjuru ruangan. Lantai dua ini jauh lebih berantakan dari pada lantai pertama. Sampah kertas dan plastik tumpah ruah di lantai. Banyak sawang sudah menebal menggelayuti sudut-sudut ruangan itu.

“Pulang aja, Yuk! Lupakan Mr. Fredek. Aku takut banget Gav...,” Agnessa merengek. Padahal ia yang pertama kali meminta kembali ke sini. Kalau ia tau suasana seseram ini, ia tak akan melakukan hal konyol ini.

“Bukannya tadi kamu yang ngotot ngajak balik?” Gavrilovich bertanya balik.

“Udah.. udah Gavril, lupakan semua. Aku merasa tidak baik untuk berada di sini lebih lama lagi. Ayo Grav!!” Agnessa merengek.

“Ah... Kamu tuh apa-apaan sih? Percuma dong kita jauh-jauh kembali ke sini? Lanjutkan!!” Erast sedikit emosi karena kelakuan Agnessa.

“Aaa....!!!” Agnessa menjerit kala melihat sosok Maria yang sedang menggantung di atas. Maria sontak melayang turun mendekati mereka. Semakin dekat Agnessa semakin menjerit. Maria menyerang orang yang paling dekat dengannya. Erast. Tangannya mencengkeram kedua lengan Erast dari belakang. Lengan Erast berdarah karena cengkeraman tajamnya kuku-kuku Maria. Erast tak bisa berkelit. Dmitri berlari menjauh, begitu juga dengan Agnessa. Sedangkan Gavrilovich berusaha menarik tangan Erast. Celaka!!! Maria berhasil menggigit leher Erast. Buas, penuh gairah. Maria menghisap tuntas darah Erast. Tubuh Erast mengejang dan akhirnya terkulai ke lantai.

“Ha ha ha ha...” Maria tertawa keras memekakkan telinga. Sejenak ia kembali terbang ke atas. Kali ini ia menempel di sudut plafon. Rambutnya yang panjang tergerai, dan matanya yang kian menyala kemerahan, membuat siapapun ngeri ketakutan melihatnya. Mulutnya bersimbah darah Erast.

Gavrilovich menggandeng tangan Agnessa. Lalu ia membisikkan kata “Lari!” pada Dimitri. Sejenak ia melihat tubuh Erast yang masih tergeletak di lantai. “Lari!!!” teriak Gavrilovich. Mereka bertiga berlari menuju ke lantai dasar. Tangga yang mereka lewati ini terasa begitu panjang dan merepotkan langkah.
Sedangkan Maria, terbang keluar melalui jendela yang tak lagi berkaca itu. Tak butuh waktu lama, Maria sudah sampai di lantai bawah. Bahkan lebih cepat dari mereka bertiga. Agnessa hanya bisa berteriak-teriak ketakutan. Dmitri panik, ia terjatuh saat berusaha lari kembali ke lantai dua.

Gavrilovich berhasil membawa Agnessa kembali ke lantai dua. Pandangannya tertuju ke segala arah. Mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk menyerang Maria. Dari balik meja ia menemukan sebuah potongan besi kecil.

Di lantai satu, Maria sudah puas menghabisi darah Dmitri. Tak hanya itu, ia lalu melempar tubuh Dmitri jauh ke luar gedung, menerabas dan memecahkan jendela kaca di sana.

Gavrilovich masih mencari posisi seaman mungkin. Bersiap siaga untuk menghadapi terjangan Maria. Agnessa menyembunyikan diri di balik punggung Gavrilovich. Ia menoleh ke sana kemari, karena Maria bisa saja datang dari mana saja. Suasana begitu senyap dan pekat. Tak ada sesuatu yang bisa dilihat, kecuali sisi luar gedung yang sedikit tertempa cahaya rembulan.

“Gavril, aku takut...” bisik Agnessa.

Gavrilovich tak menjawab. Ia hanya mengeratkan pegangan tangannya pada tangan Agnessa. Maria tiba-tiba datang melayang cepat menerkam kaki Gavrilovich. Maria membawa Gavrilovich dengan kondisi terbalik. Kakinya dicengekeram kuat dan kepalanya menghadap ke arah Agnessa.

“Lari! Cepat lari Agnessa. Cepat keluar dari gedung ini!” teriak Gavrilovich. Agnessa gelisah, tak tau apakah ia harus menuruti kata-kata Gavrilovich atau tetap di sini, menemaninya. “Agnessa, cepat lari!! A....!” Aliran  darah mengalir deras dari kakinya. Kuku-kuku tajam di jari-jari tangan Maria dengan mudah mengoyak kakiknya. Agnessa akhirnya memutuskan untuk lari. Tapi sial, pintu gedung itu terkunci. Ia melihat ada jendela kaca yang telah pecah. Ia melompat dari sana. Dengan langkah gontai ia terus berlari. Bruk... Ia jatuh tepat di pinggir tubuh Erast. Ia menjerit ketakutan.    

Maria semakin bernafsu untuk segera menghisap darahnya. Tapi Gavrilovich terus menggerak-gerakkan tubuhnya, berharap bisa terlepas dari cengkeraman Maria. Ia memukulkan besi yang ada ditangannya itu ke arah wajah Maria. Pukulan itu berhasil mengenai bagian pipi yang berlubang dan menjadi sarang ulat itu.

Maria geram. Ia melempar tubuh Gavrilovich ke dinding gedung itu keras sekali. Tubuhnya sempat membentur meja sebelum akhirnya terjatuh ke lantai. Gavrilovich terkapar. Kepalanya berdarah, mengalir membasahi pelipis dan pipinya. Besi yang ada di tangannya tadi mencelat ke sisi yang berjauhan dengannya. Dengan cepat Maria meraih tangan Gavrilovich dan dengan beringas menggigit lehernya. Bahkan darah itu muncrat ke wajah Maria, karena gigitannya yang buas sekali.

Agnessa terus berlari menjauh dari gedung tua itu. Dia baru saja gagal membuka pintu mobil yang tadi diparkir di depan gedung itu. Nafasnya tak beraturan. Jantungnya berdetak begitu cepatnya. Nafasnya memberat tak beraturan.

Ia menoleh ke belakang saat Maria tertawa keras sekali sambil terbang meninggi di atasnya. Maria masih tertawa-tawa, menciutkan harapan Agnessa untuk bisa terlepas darinya. Langkahnya terhenti di bawah truk tua yang merongsok di sana, sambil sejenak mengatur nafas. Saat ia mendongak ke atas, Maria masih berada di sana. Rambut dan bajunya melambai-lambai. Di mata Agnessa itu terlihat lebih seperti malaikat maut yang mengundangnya menuju rumah kematian.

Kini dia menyelinap di bawah truk tua itu. bersama tikus-tikus besar yang merangsek ke tubuhnya. Tangannya berusaha menyingkirkan tikus-tikus itu. Belum sempat tikus itu terenyah, tiba-tiba kedua kakinya ditarik oleh Maria. Tangannya sempat meraba-raba, mencari apapun yang bisa dia gunakan untuk menyerang. Ia menjerit histeris, dan berusaha sebisa mungkin untuk bisa terlepas dari makhluk mengerikan itu.

Maria membawanya terbang dengan mencengkeram satu kakinya. Maria menjatuhkan Agnessa di dekat dekat sumur besar dan gelap. Sumur itu adalah bekas aktifitas penambangan batubara, puluhan tahun yang lalu. Tubuhnya terpelanting beberapa meter, hampir saja ia tercebur ke dalam sumur itu.

Awan gemawan kini telah membebaskan cahaya rembulan untuk menerangi bumi. Pelipis Agnessa berdarah setelah terantuk batu saat tubuhnya terpelanting tadi. Maria mengambang tepat di atasnya. Kini ia bisa melihat dengan jelas bagaimana ulat-ulat itu menggerogoti pipi Maria. Wajahnya sebagian tertutup oleh rambut Maria. Gairah Maria seperti menusuk relung hati Agnessa. Maria menjilat darah yang mengalir di pelipis Agnessa itu. Bau busuk tubuh Maria begitu menyengat di hidung Agnessa.

Agnessa mencoba sedikit menghindar. Maria terus memandangi wajah Agnessa yang mulai menangis ketakutan. Ingatan-ingatan masa lalu berkelebatan dalam ingatan Maria. Memandangi wajah Agnessa membuatnya teringat pada seseorang yang bernama Kira. Sebelum dia dimasukkan dalam kamp wanita oleh para tentara Uni Soviet, ia menyuruh Kira untuk melarikan diri, menjauh dari desanya sejauh mungkin. Dan saat itu usia Kira hampir seumuran dengan Agnessa sekarang.

Wajah Maria berubah. Matanya yang tadi bersinar merah, kini berubah seperti mata manusia biasa. Meski wajah itu mengerikan, tapi Agnessa masih bisa menerka kesedihan di balik wajah itu. Ia masih diam. Terlintas keinginan konyol untuk melarikan diri dari makhluk menjijikkan ini. Tapi ia tau itu tak mungkin. Kini ia hanya bisa pasrah, antara hidup dan mati.

“Kira...!? Kira...?!” Maria memanggilnya Kira. Agnessa terbelalak mendengar nama mamanya disebut-sebut Maria. Agnessa makin merinding. Maria kini beralih ke samping Agnessa yang masih berdiri. “Kira...?!”

“Aku Agnessa...” Ia memberanikan diri berbicara. “Kira itu ibuku...”

“Kira...!” kali ini tangan Maria memegangi kalung cristal piramid yang dipakai oleh Maria.

“Iya... kalung ini pemberian Kira...!” ucap Agnessa. Bulu romanya berdiri karena merinding. Sedikit banyak ia menyadari ada keterkaitan antara dirinya dengan Maria.

“Kira..?!” Maria seperti memastikan bahwa kalung itu milik Kira.

“Iya... Kira... Kalung ini pemberian Kira, Ibuku..!! Siapa sebenarnya dirimu?!” Agnessa tak tahan untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Agnessa teringat pada cerita ibu yang mengatakan bahwa neneknya bernama Maria, telah menjadi tahanan di kamp perempuan, di kota Kadykchan.

“Maria?!!?!” Agnessa menebak makhluk di sampingnya ini adalah Maria. Agnessa bangkit. “Kau... Maria?!!”

Maria akhirnya mengangguk perlahan. Agnessa seperti tak percaya dengan apa yang baru saja dialaminya kini. Ia bertemu dengan neneknya dalam keadaan seperti ini. tangisnya pecah. Ia tak tahan ingin memeluk neneknya.

“Grand Ma, I miss you...!!”
***
Cerpen ini diikutkan dalam event #HororKotaDunia yang diadakan oleh DIVA Press. Gagal Lolos. Gagal Horor :D Bellaa... tolong aku!!!!.... :D

Wednesday, March 12, 2014

Secercah Kebahagiaan untuk Ibu



Perempuan itu masih memegang palu di tangannya, saat aku mendatanginya dini hari itu. Batu-batu koral sudah menggunung di sisi perempuan itu. Sejenak ia menoleh padaku, tapi dia tetap tak bergeming. Dia masih saja memecahi bebatuan sebesar kepalan tanganku yang masih menumpuk di depannya itu. Wajahnya kusut, sekusut pakaian yang ia kenakan. Bulir air mata tertahan di kelopak mataku, hingga akhirnya terjatuh membuat titik basah di jilbabku.

“Ibu...!” aku mendekapnya erat. Biarlah tangan berpalu itu terbeku sejenak dalam pelukku. Tumpahan air mataku kian membasahi bajunya yang telah basah oleh keringatnya. Perempuan itu masih diam tak bereaksi. Mungkin diam itu adalah reaksi terbaik yang dipilihnya. Buliran air mata menggantung di ujung kelopak matanya. Kutahu pandangannya masih kosong. 

Masih kuingat jelas bagaimana wajah lelaki bangsat yang baru saja kutemukan jidatnya kemarin. Aku mengharamkan diriku memanggilnya ayah. Meski dialah yang menanam benihku di rahim ibuku. Lelaki yang ingin kupanahkan seribu kutukan padanya, atas semua perbuatannya yang seperti kucing liar itu.
***
Dulu ketika aku masih kecil, ayahku hanyalah seorang pengangguran. Sesekali dia membantu ibuku yang setiap hari mengais batu di kali dekat rumah. Aku masih ingat dengan jelas, ayah berkali-kali mengatakan “Aku tak pantas bekerja seperti itu, lagian kapan kayanya kerja seperti itu?” Ibuku tak pernah memberi tanggapan apapun atas sikap ayah yang seperti itu. Biasanya ayah akan mengingatkan ibu tentang asal-usul ayah yang dari Surabaya, lalu deretan cerita membangga-banggakan Surabaya dan masa lalunya akan mengalir tak kurang dari satu jam.
Alhamdulillah, dari mengais batu-batu kali itu, ibu sudah bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, meskipun pas-pasan. Kebutuhan sekolah dan uang saku pun sanggup ibu berikan. Bahkan untuk beli rokok ayah sehari-hari pun ibu penuhi.
Aku tahu, cinta ibu kepada ayah amatlah besar. Setiap hari ibu mengabdi tiada keluh untuk suaminya itu. Ibu sudah mempersiapkan sarapan sebelum suaminya bangun. Secangkir kopi juga sudah tersedia di meja samping tempat tidurnya, lengkap dengan rokoknya. Ibu melakukan semua itu dengan sepenuh hati. Tapi rupanya itu semua tak cukup untuk membuat ayah bersyukur.
Suara syahdu merayu hanya terdengar ketika ayah sedang butuh pelampiasan nafsu. Entah dengan cinta. Atau hanya sekedar nafsu. Aku tahu, ibu pasti melayaninya dengan penuh cinta.
Hingga pada suatu hari, semakin banyak orang yang ikut mengais bebatuan kali untuk dijadikan batu koral. Padahal kali itu hanyalah kali kecil. Bebatuan yang ada pun tak sebanyak di kali-kali pegunungan. Sehingga ibu harus rela berbagi batu dengan warga yang lain. Penghasilan ibu pun berkurang.
Aku berkata-kata keras, saat ibu pertama kali tak memberiku uang saku. Aku mengancam tidak akan masuk sekolah kalau tidak dikasih uang saku. Ibu tetap tak memberikan uang saku itu. Aku pun membuktikan ancamanku. Berhari-hari aku tak masuk sekolah hanya karena tak ada uang saku dari ibu.
Ayah lebih parah lagi. Tiap pagi dia ngamuk-ngamuk karena tidak disediakan kopi dan rokok di sampingnya. Hanya ada sepiring nasi dan lauknya untuk sarapan saja. Ibuku hanya diam menahan tangis, tiap kali ayah marah-marah seperti orang kesetanan. Dan ibu harus menebalkan muka, menahan malu, ketika berhadapan dengan orang lain.
Saat ayah semakin tak tahan dengan keadaan ini, ayah membujuk rayu ibu agar menjual sedikit tanah warisan ibunya. Ayah berencana akan bekerja sebagai TKI di Malaysia. Ibu akhirnya mengabulkan permintaan ayah, setelah segala cara ayah lakukan agar keinginannya itu terpenuhi. Ibu menjual tanahnya. Ayahpun berangkat.
Jutaan harapan ditaburkan oleh ayah. Mulai dari membangun rumah yang bagus, membeli tanah lagi, hingga membeli sebuah sepeda motor keluaran terbaru. Ibu tersenyum bangga pada suaminya. Tentu saja cintanya makin ganda berlipat-lipat.
Setelah sebulan lebih ayah bekerja, ayah berkirim surat. Aku membacakannya untuk ibu, karena ibuku tak pernah lulus sekolah dasar. Baginya huruf-huruf itu hanya seperti morse aneh yang tak dapat dibaca. Dalam suratnya ayah mengatakan rindu pada ibu, rindu padaku dan rindu pada suasan rumah. Ayah juga memberi kabar, bahwa ayah belum bisa mengirimkan uang, karena belum mendapatkan gaji penuh. Gajinya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Ibuku menangis. Bukan karena ayah tidak mengirim uang. Tapi karena ia merasa kasihan pada suaminya yang telah bekerja keras membanting tulang di negeri orang. Dan mungkin ibu juga merindukannya.
Aku yang pernah mogok tak masuk sekolah, saat itu mulai menyadari bahwa tak seharusnya aku berbuat seperti itu. Meskipun pada akhirnya, ibu kembali sanggup memberiku uang saku. Bahkan aku mulai menyadari sepenuhnya bahwa pendidikan ini penting sekali untuk masa depanku. Pak Ruskandarlah yang berhasil menanamkan itu di benakku. Beliau adalah guru Bahasa Indonesia di sekolahku dulu.
Aku mulai ikut membantu ibu mengais rezeki. Menabung sedikit demi sedikit, semata-mata agar aku bisa terus melanjutkan pendidikanku. Ibu sering melarangku membantu mencari batu di kali. Ibu hanya menyuruhku belajar dan belajar.
“Kamu harus jadi orang pintar Nak, jangan seperti ibumu!” kalimat itu yang selalu terlontar dari mulutnya saat aku ingin membantunya. Waktu demi waktu ibu hanya bergelut dengan batu dan palu. Tak pernah ada keluh yang kudengar dari mulutnya. Hanya sesekali dia menanyakan apakah sudah ada kiriman surat dari ayah atau belum.
Bulan ke dua, ke tiga dan sampai akhirnya aku lulus SMA, tak pernah sekalipun ayah mengirim surat. Rupanya surat ayah dulu itu adalah surat pertama dan terakhir.
Tersirat jelas ada kesedihan di wajah ibu, meskipun ibu berusaha sekuat tenaga agar aku tak mengetahuinya. Ibu hanya lebih sering diam. Ibu makin menyibukkan diri dengan palu dan batu-batu itu.
“Nak, kamu harus kuliah!” suara itu serasa hujan di tengah kemarau panjang. Aku hanya diam menanti ibu bicara lagi. Ibu bangkit dari dingkliknya. Berjalan sedikit membungkuk karena terlalu lamanya duduk. Mengambil celengan dari atas lemari tua itu.
“Prrraakkgkk....” ibu membantingnya ke tanah. Uang dengan bermacam-macam pecahan itu tumpah berserakan. Lalu ibu mengumpulkannya.
“Ini buat biaya kamu kuliah, Nak!”
“Tapi nanti siapa yang menemani Ibu?”
“Ibu bisa hidup sendiri, yang terpenting adalah kamu harus jadi orang pintar, Nak, jangan seperti ibu! Juga supaya ketika nanti ayahmu pulang, beliau akan bangga melihatmu telah menjadi seorang sarjana!” Tangisan ibu memecah keheningan malam itu. Makin lama makin menjadi. Aku memeluknya.
Ibu masih mengharapkan kepulangan ayah. Padahal sudah delapan tahun berlalu. “Besok kamu harus berangkat, Nak! Sekarang persiapkan dulu barang-barang yang akan kamu bawa nanti.” Saat mengemasi barang-barangku, aku menemukan dua buah buku kecil usang, bersampul merah dan hijau, yang ternyata adalah buku nikah milik ayah dan ibuku. Kumasukkan keduanya di dalam tas, sebagai pengganti keberadaan mereka berdua. Agar ketika aku rindu nanti, buku itu yang menjadi pengobatnya.
Aku menyempatkan waktu untuk pergi ke Kantor Pos sejenak, sebelum aku benar-benar pergi ke Surabaya. Aku berharap sekali ada surat yang dikirmkan oleh ayah di sana. Tapi ternyata aku harus membuang jauh-jauh harapan itu.
***
Aku berharap besar wisuda nanti ada ayah dan ibuku di sampingku. Aku ingin membuat ibu bahagia. Aku ingin membuat ibu bangga telah melahirkanku. Aku ingin membuat ibu tak menyesal mendidik dan merawatku. Aku ingin memberikan sedikit kebahagian pada ibu atas segala jerih payahnya selama ini. Dan sebagai hadiah aku berusaha mencarikan ayah untuk ibu.
Aku mencari data-data di berbagai tempat untuk menemukan sebuah nama, “Suparlan” yang tidak lain adalah ayahku sendiri. Semua teman kuliahku dan semua koneksi yang aku punya yang kemungkinan memiliki akses data TKI, data kependudukan dan ketenagakerjaan aku mintai tolong untuk mencari nama “Suparlan” itu.
“Kamu punya data identitas ayahmu nggak, Nis?” tanya salah seorang temanku yang bernama Ayu Sukma.
“Nggak ada, Yu, sudah 13 tahun aku tak bertemu ayahku! Yang aku ingat, ayahku punya tompel kecil di dahi kanannya, Yu!” jawabku putus asa. Hampir semua temanku tak bisa memberikan data seseorang yang mungkin itu adalah ayahku.
Hendi yang punya akses informasi data TKI sebenarnya telah menemukan beberapa nama “Suparlan” yang menjadi TKI. Tapi tak ada satupun yang alamat rumahnya Surabaya ataupun Bojonegoro.
Aku pulang ke tempat kos dengan tubuh lunglai tak berdaya. Harapanku untuk memberikan secercah kebahagiaan pada ibu mungkin harus kukubur dalam-dalam. Aku hanya bisa menghela nafas.
Kusandarkan punggungku ke almari baju di kamarku. Menyeruak rindu pada ibuku. Terlintas berkelebatan di ingatanku semua yang dilakukan oleh ibu untukku. Ibuku tak pernah bisa merasakan kebahagiaan selama hidupnya. Ibu yang selalu mengerahkan semua tenaganya untukku, dan juga untuk suaminya. Ibu yang rela membakar dirinya sendiri, demi menerangi kehidupan orang lain. “Oh Tuhan.... !!” Tubuhku terkapar di lantai kamar itu. Aku tak sanggup lagi menahan air mata yang sejak tadi tumpah ruah dalam hatiku. “Tuhan, ijinkanlah aku bertemu dengan ayahku, agar aku bisa memberikan sedikit kebahagian untuk ibu...."
Akhirnya putuskan saja untuk melupakan semua tentang ayah. Rasanya tak mungkin aku menemukannya. Aku akan pulang saja dulu menjemput ibu. Kukemasi beberapa baju dari dalam almari. Ada sesuatu yang jatuh ke lantai. Subhanallah, ternyata itu adalah buku nikah ayah dan ibuku. Aku lupa telah menyimpannya di dalam almari. Secercah harapan kembali bersinar di hatiku. Kuambil HPku dan segera menelepon Ayu.
“Ayu di sini. Ada kabar?”
“Aku menemukan identitas ayahku, Yu!”
***
Ayu berinisiatif mengetuk pintu rumah itu mendahuluiku. Perempuan sedikit lebih muda dari aku membukakan pintu. “Apa benar ini rumah Bapak Suparlan?” tanya Ayu.
“Iya benar,”
“Bapak sedang berada di rumah?”
“Iya ada, silahkan masuk!”
Dari ruang tamu itu terdengar suara perempuan lain yang sepertinya lebih tua dari yang membukakan pintu tadi. Perempuan seumuran ibuku keluar dari dalam, dan menemui kami di ruang tamu. Detak jantungku terpacu, seiring keringat dingin yang meleleh di wajah dan sekujur tubuhku.
Saat itu Ayu yang lebih banyak bicara. Tiba-tiba dia mengeluarkan beberapa peralatan kosmetik. Aku baru menyadari bahwa di berpura-pura menjadi sales girl. Hingga akhirnya laki-laki itu datang, dan ikut nimbrung dalam pembicaraan Ayu dan perempuan itu. Bahkan dalam sekejap, ayu sudah berhasil memperoleh identitas kedua orang itu dari mereka. Kemudian kuketahui identitas yang ada di KTP itu terdapat nama dan tanggal lahir yang sama dengan yang ada di buku nikah itu.
Aku menghirup nafas dalam-dalam. Aku belum berani menatap wajah laki-laki itu. Berbagai kemungkinan berseliweran di benakku. Aku tak ingin menerima kemungkinan terburuk.
“Produk ini dari Bojonegoro, Ibu!” kata Ayu.
 “Bojonegoro?!” laki-laki tersentak. “Kalau boleh tau Bojonegoro mana, Mbak?”
“Tepatnya di Kecamatan Ngasem Bapak. Apa Bapak tahu atau pernah ke sana?” tanya Ayu menyelidik.
“Pernah, tapi sudah lama sekali, Mbak!” jawab laki-laki itu. Kuberanikan diri untuk menatap wajahnya. Kupandang wajahnya.
“Astaghfirullohal ‘adhim...!” Kulihat ada tompel kecil di dahinya.
Nafasku sengal tak beraturan. Aku segera berdiri, lalu merobohkan meja kaca itu hingga pecah tak karuan.
“Laki-laki Bangsat!!!” Teriakku padanya. Lalu kulemparkan buku nikah itu ke wajahnya
***
Cerpen ini diikutkan dalam Lomba Cerpen #EverlastingWomen yang diadakan oleh DIVA Press dan UNSA. Gagal.

Thursday, February 13, 2014

Ketika Bunga Layu (KBL)

Sofyie Sofyie
KBL...?

Habib Ahmad
aku wes ngantuk.....

Echo Yo Oke
Cerita Lelaki Muda

Nur Aziz
ayo ki siap

Gus Wahyu
Sabar mas brow

Nyadri Subejo
Alhamdulillah mash sehat

Kalimat di atas itu adalah kalimat yang aku minta pada teman-teman di facebook. Lalu kujadikan tantangan untuk diriku sendiri, bisa nggak membuat kalimat-kalilmat terpisah itu menjadi cerpen. Dan cerpen di bawah inilah hasilnya. Masih jauh dari kata bagus emang, namanya juga masih belajar.

Sebelumnya ada beberapa hal yang perlu aku jelaskan di sini, kenapa aku harus meminta-minta (ngemis :D) seperti itu?
  1. Aku terinspirasi sama catatan Bung Alexander Thian di blognya http://amrazing.com/lelaki-yang-mengayuh-laut/. Kamu bisa follow akun twitternya di @amrazing
  2. Cara seperti ini ternyata bisa membuat aku merasa berdosa bila tak menjadikannya cerpen. Jadi mau nggak mau aku akhirnya terus belajar menulis. Sorri ya, ceritanya masuk dalam kategori remaja.
Cekidot!

KBL (Ketika Bunga Layu)

Sebelum berkembang

Aku sudah menyangka kejadian ini akan terjadi suatu saat nanti. Dan saat itu ternyata adalah sekarang. Saat dimana aku harus melihat perempuan yang aku cintai terkena getah ulah para penjarah kesucian. Orang seperti Brutush itu tak pantas mengatakan kalimat “Aku mencintaimu” kepada siapapun wanita di bumi ini. Kenapa dia tidak mengganti saja kalimat itu dengan kalimat yang lebih sesuai dengan tujuannya mengucapkan itu. Bilang saja “Aku menafsuimu...!” payah.

Malam ini, aku sudah tak mampu lagi untuk mencegah keinginanku untuk mengutarakan perasaan terdalamku pada Sita. Aku merasa telah cukup untuk memberikan isyarat padanya. Dan sepertinya, Sita pun sudah menjawabnya dengan jelas padaku.

Isyarat yang nampak jelas sekali ini, isyarat bahwa ia juga mencintaiku, adalah peluang emas yang tidak  bisa tidak harus aku manfaatkan sebaik mungkin. Jangan sampai kupu-kupu yang sudah di depan jari ini, terbang menjauh lagi.

“Aduh, Kak, udah kayak hantu aja wanginya,” protes Sena, adikku, saat mencium aroma parfum andalanku. Aku hanya tersenyum dewasa menanggapinya.

“Doakan kakakmu ya, Sen, semoga Dewi Fortuna malam ini berpihak sama kakak.”

“Emangnya Kakak mau ngapain? Tumben malam minggu gini punya acara keluar. Biasanya juga di rumah aja!”

“Kakak mau nembak calon kakak iparmu malam ini...”

“Mati dong?”

“Enggak, palingan Cuma pingsan saking gembiranya. Ha...”

“Kak Sita?”

“Iya, siapa lagi?”

“Aduh, jangan berharap terlalu banyak deh, Kak. Kak Sita kan banyak sekali yang naksir?”

“Kamu tenang aja, Sena. Kakak sudah menangkap isyarat kuat yang dikirim oleh kakak iparmu itu.”

“Pede amat sih? Amat aja nggak pede-pede amat!”

“Harus dong. Udah kakak berangkat dulu ya..!”

“Iyaaa... Sok manis banget sih...!”

“Eh eh eh, kakak emang manis, bukan?”

“Abis nyemplung ke kolam madu kali!”

“Ah, kamu itu, bisa aja sih menjawabnya?” Sena nyengir, membuat hidungnya yang pesek kian tenggelam.

Cukup sudah obrolan ringan ama adikku yang paling aku cintai itu. Bukan karena apa-apa, tapi karena emang hanya dia adikku satu-satunya. Kusamperin si minthy kesayanganku. Catat ya! Minthy, dengan “y”, bukan minthi, dengan “i”. Taukan, biar kelihatan bulenya gitu. Minthyku ini memang istimewa. Banyak yang menawar ingin membelinya, tapi aku tak pernah berniat sedikit pun untuk menjualnya. Ia terlalu berharga bagiku. Yah, meski jadul, tapi si minthy tetaplah istimewa. Dan malam ini, kubawa dia main ke rumah seseorang yang istimewa pula.

Jarak rumahku tak begitu jauh dari rumah Sita. Hanya dua kali belokan juga udah nyampe. Ke kiri dan ke kanan. Deket banget lah pokoknya. Lima puluh meter sebelum nyampai di depan rumahnya, aku menyempatkan diri untuk berhenti sejenak, hanya untuk memastikan kemaksimalan penampilanku malam ini. Celana jeans ketat, kemeja kotak-kotak, dibungkus dengan jaket levis juga. Bisa dibayangkan, penampilanku malam ini kerennya kebangetan. Ce i leh... Emang dasarnya sudah tampan, didandanin gimana aja juga tampan. Setidaknya ibuku yang pernah bilang seperti itu. Entah kata orang lain. Haa..

Setelah yakin dengan penampilanku, kulanjutkan lagi perjalananku ke rumah Sita. Sial, kulihat sudah ada motor si Patkey yang terparkir manis di halaman rumah Sita. Kecolongan nih. Aku meragu, antara melanjutkan niat, atau balik kucing aja. Bila perlu balik macan aja, biar lebih cepat. Bila aku balik macan, tentu aku khawatir si Patkey akan berhasil merebut hati Sita. Playboy cap capung itu tak pernah mau ketinggalan kalau tahu ada cewek cantik. Minder juga sih sebenarnya, melihat motornya yang seharga lima puluh jutaan itu. Nama aslinya Brutush. Seminggu yang lalu baru aja dia mutusin pacarnya. Kini sudah berganti mengejar Sita. Jadi tak salah jika teman-temannya menjulukinya Patkey.

Aku sebenarnya khawatir banget sama Sita, aku nggak mau dia terjebak dalam rayuan gombal Brutush. Kalau memang benar saat ini dia sedang mendekati Sita, maka ini akan menjadi hambatan terbesar dalam kisah cinta pertamaku ini. Ortunya yang tajir, wajahnya yang ngartis, dan sikapnya yang romantis, selalu menjadi senjata ampuh untuk menekuklututkan hati gadis incarannya. Siapa juga sih yang nggak mau sama orang macam Brutush. Tapi Sita, ia terlalu baik bila hanya menjadi santapan Brutush.

Aku putuskan untuk tetap main ke rumah Sita. Aku tak mau menyerah begitu saja pada keadaan. Jangan sampai aku menyerah sebelum berperang. Kuparkir si Minthyku berjajar dengan motor nggak sopan harga itu. Aku tahu, Sita tak pernah mempertimbangkan tunggangan untuk memilih siapa kekasihnya.

“Assalamu’alaikum...” Kulihat Brutush begitu terkejutnya melihat kedatanganku.

“Wa’alaikum salam,” jawab Sita seorang. Sedangkan Brutush masih berada dalam posisi kebengongannya.

“Ngapain kamu ke sini?” tanya si Brutush sewot.

“Ada perlu sama Sita. Kamu sendiri?” tanyaku balik.

“Aku juga ada perlu sama Sita. Lebih tepatnya keperluan khusus gitulah.” Ceileh, pakai khusus segala. Palingan juga lagi pedekate.

“Silakan duduk, Galih! Kamu mau minum apa?” tanya Sita dengan senyumnya yang selalu membuat hatiku berdesir itu.

“Apa aja deh, Ta.”

Tak lama kemudian Sita kembali ke ruang tamu membawa segelas susu untukku. Sedangkan di depan Brutush sudah ada segelas teh yang tinggal separuh. Hatiku berbunga-bungalah. Bagiku susu, bagimu teh. Betapa gamblangnya Sita memberikan aku isyarat, meski saat ini ada Brutush yang ia tau juga sedang pedekate padanya.

Kali ini aku semakin percaya diri. Apalagi Sita yang berpindah tempat duduk. Kali ini ia duduk di sampingku, meski dengan kursi yang berbeda. Aku dan Sita sudah seperti sepasang suami istri yang sedang menerima tamu, seorang kawan lama. Oh, betapa bahagianya sepasang suami istri ini, seandainya beneran. Seperti shuttle cock yang terlempar tanggung di atas net, aku tinggal memilih untuk men-smash-nya ke mana aja. 

***

Tempo melambat, aku tak juga berkesempatan untuk mengutarakan cintaku pada Sita. Ujian Nasional yang sudah di depan mata, membuatku harus memberikan porsi lebih untuk kegiatan belajar. Tapi lain halnya dengan Brutush, tanpa sepengatahuanku, ternyata dia makin rajin bertandang ke rumah Sita.  Tapi aku tak juga bisa mengambil tindakan karena kesibukan ini dan itu. Dari mencuci kolor sampai mencuci motor, dan tak ada waktu untuk mencuci mata.

Sebuah istilah yang unik sebenarnya. Melihat pemandangan wanita-wanita cantik, dengan fokus di auratnya dinamakan dengan cuci mata. Kalau pun ada yang cuci mata dengan pemandangan alam yang indah, itu hanya satu dua yang menyebutnya dengan cuci mata. Mereka sering menyebutnya dengan refreshing. Dan khusus untuk cuci mata, sudah identik dengan melihat pemandangan cewek-cewek yang ada di depan mata. Yah uniklah, secara memandang aurat itu kan dosa, kenapa dibilang mencuci. Padahal mencuci itu kan membersihkan. Lah yang terjadi adalah mengotori mata dengan dosa. Ah udah udah, aku jadi malu pada diri sendiri, aku kan juga suka cuci-cuci mata. Ini nih yang namanya gajah diblangkoni.

Siang ini, aku sengaja menjemput Sita di kelasnya, untuk mengajaknya pulang bersama. Biasanya sih dia asyik-asyik memboncong si Minthy. Sita sudah berjalan sampai di depan gerbang sekolah. Aku menghampirinya dengan si Minthy.

“Pulang bareng yuk!” Aku berhenti di sampingnya. Tak ada jawaban yang bisa segera kudengar dari bibir tipisnya. Sebelum akhirnya Brutush juga berhenti di belakangku. Sita dengan cepat berjalan ke arah Brutush, dan membonceng di atas motornya. Haduh, rupanya kedudukan sekarang sudah 0-1 untuk keunggulan Brutush. Aku hanya memandangi mereka yang berlalu dari hadapanku.

“Galih..!” Kumenoleh ke asal suara panggilan itu. Ternyata si Soneo.

“Apa Son?” tanyaku malas-malasan.

“Nebeng pulang dong!”

“Ayo...! Ayo Minthy, bawa aku kemanapun kau mau! Juraganmu sedang terluka hati”

Minthy pun melaju. Sepanjang perjalanan Soneo terus mengoceh. Entah apa yang dibicarakannya, aku sama sekali tak mendengarnya. Di hatiku kini hanya ada Sita. Kenapa dia berubah sikap seperti itu? Kenapa dia lebih memilih Brutush dari pada aku. Bukankah dulu ia lebih dekat denganku? Apakah mereka sudah jadian? Huh, berjuta kekhawatiran memenuhi ruang hampa hatiku.

“Oke, makasih Sob. Kamu yang sabar ya? Da..!” Soneo melambaikan tangannya. Minthy kembali melaju dengan pedenya, di tengah lalu lalang motor-motor keluaran terbaru.

Bentar, bentar. Tadi si Soneo bilang apa? Aku musti sabar? Emang kenapa ya? Dari tadi ia ngomong apaan? Huh, terlalu banyak melamun sih. Firasat yang kurasakan semakin tak mengenakkan hati. Aku terus mencoba menepis segala kemungkinan yang bisa saja terjadi.

***

Malam ini aku ingin mengusir kepenatan pikiran dan hatiku. Ku-sms semua bala kurawa untuk segera ngumpul di markas. Lebih tepatnya di warung kopi Pak Din. Letaknya tak jauh dari rumahku. Satu per satu mereka mengkonfirmasi kehadirannya. Cempe siap. Wedus siap. Pedet siap. Masih kurang satu yang belum konfirmasi, Kebo. Loh, kok temanku binatang semua? Haa... Bukan nama sebenarnya. Kebiasaan pemberian nama julukan di kampung kami ini sudah sedemikian brutalnya. Hampir tak ada satupun pria remaja yang luput dari penjulukan seperti itu. Kecuali mereka yang pendiam dan jarang bergaul dengan sesama. Aku sendiri sebenarnya juga tak luput dari penjulukan itu. Tapi aku terlalu malu untuk menyebutnya di sini. Curang sedikit nggak papalah, yang penting nggak korupsi, bukan?

Malam hari gini paling enak emang kongkow di warung kopi. Mengadakan seminar informal berjam-jam lamanya, dengan tema universal. Saking universalnya, dialog bisa melebar kemana-mana. Mulai dari paha ayam potong sampai paha ayam kampung, dari Chelasea FC sampai Persibo. Ah, lupakan saja yang terakhir tadi.

“E... Mas Galih, apa kabar, Mas?”

“Alhamdulillah masih sehat, Pak.”

“Mau saya buatin apa malam ini? Kopi? Susu?”

“Kopi aja Pak Din, lima cingkir.”

“Apa? Kamu pengen mendem apa, Lih?” Pak Din sedikit membelalakkan matanya ke arahku.

“Mendem gimana, Pak?”

“Pesen kopi banyak banget gitu, buat siapa aja?”

“Udah, bikinin aja sana, entar binatang tamunya juga pada nyusul.”

“Oke, Bos.”

Aku memilih untuk duduk lesehan saja. Beralaskan banner bekas media kenarsisan para caleg. Aku menghela nafas berat, bersandarkan tiang teras warung Pak Din. Dalam waktu tujuh menit, Pak Din sudah membawakan lima cangkir kopi di depanku. Segera kupilih salah satunya. Kupegang dengan penuh cinta dan kasih sayang. Menuangkannya ke dalam lepek, dan Srrupppp... Ah... nikmatnya. Urat-urat di kepalaku rasanya kembali mengencang. Mata pun kian melebar.

Tapi sialan tuh anak-anak. Katanya udah pada siap tapi kok belum datang juga. Ya tentu aku “huft”lah. Daripada nganggur, pilihan terbaiknya adalah mainin gadget aja. Bukan android, bukan juga smartfone, bukan juga tablet. Terus apa? Sudahlah jangan kau tanya tentang gadget di tanganku ini, yang jelas aku bisa memainkan game ular makan tikus dengan gadgetku ini.

“Sorry, Pret, tadi mampir bentar ke rumah ayangku,” Kebo justru datang pertama kali. Dengan seulas senyuman yang gagal membuatku senang, bahkan lebih terasa menyesakkan hati. Kenapa dia nggak ngerti juga, bahwa membicarakan pacar dengan jomblowan itu adalah kejahatan nomor 9? Bisa-bisa terjerat pasal 11/12 UUP (Undang-undang Percintaan) dengan tuduhan penistaan seorang jomblo.

“Yo i, Bo. Harus dong!” aku memberikan senyuman terbaikku, berusaha tampil setabah mungkin. “Nih, kopimu!”

“Wedus sama Cempe belum nyampai sini ya?”

“Belum, tau tu anak, naik kereta bekicot kali!”

“Gimana kabarmu sama Sita, Pret?”

“Entahlah, sepertinya dia sudah terjaring perangkap Brutush,” nafasku kembali memberat. “Dulu aku sempat akan menembaknya, tapi aku pikir karena ini sudah mendekati ujian nasional, aku khawatir akan mengganggu konsentrasi belajarnya.

Wedus datang barengan sama Cempe. Kakak beradik itu memang kompak banget dalam hal apapun. Mulai dari gaya rambutnya, kaosnya, celananya, bahkan celana dalamnya.

“Dari mana aja kamu, Dus, lama banget?” tanya Kebo menjemput kedatangan mereka berdua.

“Aku punya berita penting broder broder, penting banget!” ujar si Cempe yang kemudian membuat formasi melingkar, seperti biasanya.

“Berita apaan, Cemp?” tanyaku penasaran.

“Ehm... Kamu janji dulu nggak akan pingsan setelah kusampaikan berita ini!” kata Cempe terdengar begitu mendebarkan hatiku. Berita apakah gerangan yang bisa membuat aku pingsan?

“Udah, cepat ceritain!” sergahku.

“Jadi gini Bro, Shanti, pacarku yang paling cantik di dunia itu cerita sama aku, kalau ternyata sekarang Sita sedang hamil tiga bulan,” glek, Cempe menelan ludah.

“Apa? Kamu jangan ngasal aja, Cemp, kalau bicara?”

“Beneran, mana mungkin sih Shanti bohong sama aku, lagian dia kan tetanggaan sama Sita!”

“Iya Bro, masyarakat sekitar sudah sangat gempar sekali,” wedus berusaha meyakinkan aku. “Kamu yang sabar Mas Bro!”

“Sialan benar si Brutush! Brengsek banget sih tu anak? Aku sudah menyangka kejadian ini akan terjadi suatu saat nanti. Dan saat itu ternyata adalah sekarang. Saat dimana aku harus melihat perempuan yang aku cintai terkena getah ulah penjarah kesucian perawan. Orang seperti Brutush itu tak pantas mengatakan kalimat ‘Aku mencintaimu’ kepada siapapun wanita di bumi ini. Kenapa dia tidak mengganti saja kalimat itu dengan kalimat yang lebih sesuai dengan tujuannya mengucapkan itu. Kenapa tidak bilang saja ‘Aku menafsuimu...!’ Cuk!”

Aku hanya bisa menyembunyikan mimik tak beraturan di wajahku, dengan kedua telapak tanganku yang tak henti menjambak-jambak rambutku. Kisah cinta pertamaku ini harus berhenti sebelum aku menuliskannya. Cinta pertamaku gagal. Bagaimana mungkin, bola yang sudah di depan gawang ini bisa meleset? Tak ada gol lagi untuk menyamakan kedudukan, karena waktu sudah habis. It’s over. Oh, My God, i’m galau to night. 

“Ayo, ki siap! Kita hajar aja rame-rame si Brutush,” Kebo ikutan emosi mendengar berita itu. Ia berdiri sambil berkecak pinggang.

“Jangan sekarang, Bo. Udah terlalu malam untuk bikin keributan,” Wedus coba meredam Kebo.

“Iya benar, lagian aku wes ngantuk, besok masih ada waktu untuk itu, Bo,” Cempe menyambung.

Sedangkan aku sendiri masih tertunduk lesu. Tak tau bagaimana lagi aku harus mengambil keputusan malam ini. Jiwaku lunglai seperti tersambar petir di malam bolong. Ternyata tidak hanya siang saja yang bolong, malam juga bisa bolong, seperti malam ini. Berita itu telah membabat habis harapan cintaku selama ini. Rasanya baru kemarin aku masih bertukar isyarat dengannya. Tapi malam ini, sungguh terasa sesak sekali di dadaku.

Ingin sekali rasanya kupotong-potong buah dzakarnya itu. Suka banget sih dia cari-cari kesempitan? Begitulah, Brutush selalu mencari kesempitan tiap ada kesempatan. Khayalan tentang masa depan yang kan kulalui bersama Sita, kini terpotong-potong menjadi puzzle yang tak akan pernah bisa terrangkai menjadi gambar utuh lagi. Jiwaku kini hanyalah seperti sim card handphone yang sudah habis masa tenggangnya. Tak bisa lagi mengirim dan menerima pesan cinta dari siapapun. Mati.

***

Lembar-lembar waktu telah terlipat dengan cepatnya. Ujian Nasional tinggal  dua hari lagi. Namun sekolah digemparkan lagi dengan berita dikeluarkannya Nisa dari sekolah. Kabar ini sendiri aku dengar dari cerita lelaki muda tadi malam, ketika aku masih ingin membuang suntuk di warkop Pak Din. Keputusan itu diambil setelah pihak sekolah mengetahui bahwa Sita telah hamil. Termasuk si Brutush yang suka menaruh burungnya sembarangan itu. Oh My God! Kabar ini terasa begitu mengerikan di telingaku. Sehari menjelang Ujian Nasional mereka dikeluarkan dari sekolah? Gilak benar dunia ini.

Sedikit banyak aku bisa membayangkan bagaimana perasaan Sita saat ini. Sita yang memang nggak pernah neko-neko harus termakan bujuk rayu Brutush, yang kini membawanya pada nestapa berkepanjangan. Ada kasihan yang menyeruak dalam dada. Ataukah ini cinta? Aku tak lagi bisa memperjelas perasaanku.

Perasaan kalut membawa tubuhku berjalan menuju ruang Kepala Sekolah. Aku ingin menyampaikan keberatanku atas keputusan sekolah itu. Mereka harus membatalkannya. Sita harus tetap ikut ujian, titik.

“Itu tidak mungkin, Nak Galih! Apa yang mereka lakukan jelas telah mencoreng nama baik almamater kita!” jawab Pak Brodin, Kepala Sekolah, yang meski terucap manis namun begitu pahit kurasakan.

“Pak, bukankah apa yang terjadi ini menunjukkan bahwa pendidikan sekolah ini telah gagal?” aku berusaha menyerang sekenanya.

“Maksud kamu?”

“Iya gagal. Sekolah kita telah gagal membangun jiwa-jiwa muridnya. Semua guru hanya sibuk mencekoki pelajaran-pelajaran, yang itu hanya untuk konsumsi otak saja. Sedangkan konsumsi untuk kejiwaannya hanyalah menjadi menu pelengkap saja. Kasus seperti Sita ini hanyalah sebagian kecil yang terjadi pada murid-murid Bapak!” suasana menegang. Kulihat wajah Pak Brodin mulai terlihat garis-garis kemarahannya. Aku tetap tak peduli. Aku hanya ingin Sita tetap ikut ujian.

“Kamu kalau bicara jangan sembarangan, Galih! Kamu mau saya keluarkan juga dari sekolah ini? Ha?!” matanya yang memerah itu kini juga melotot.

Brengsek. Mentang-mentang dia punya kekuasaan untuk mengambil keputusan, seenaknya saja menodongkan palu-nya untuk mengancam orang lain saat dia sendiri terancam.

“Bagaimana bisa, sekolah sebagai lembaga pendidikan tidak merasa bertanggung jawab atas kebobrokan mental murid-muridnya?” aku bersikukuh untuk terus melawan.

“Ha ha ha ha..” Pak Brodin bahkan masih bisa tertawa. “Nak Galih, kalian belajar di sekolah ini hanya berapa jam?”

“Tujuh jam?”

“Betul, dan kami tidak bisa berbuat banyak dengan tujuh jam itu. Tujuh belas jam lainnya kalian habiskan di rumah. Dan itu menjadi tanggung jawab orang tua kalian. Persoalan kebobrokan mental itu banyak sekali penyebabnya. Bisa pergaulan mereka yang salah, dan juga kemajuan jaman ini, yang memang telah menggerogoti moral anak bangsa.”

“Dan itu artinya sekolah ini tak bisa menjawab semua tantangan itu. Kini, saat jiwa Sita telah meredup, Anda justru menyiramnya dengan air. Luar biasa! Permisi!” aku berlalu meninggalkan ruang kepala sekolah. Teriakan Pak Brodin memanggil-manggil namaku tak lagi kuhiraukan. Bulshit dah.

***

Semakin lama aku semakin tak bisa mengenyahkan bayangan wajah Sita dari pikiranku. Aku ingin sekali bertemu dengannya. Aku ingin memastikan bahwa dia baik-baik saja. Angin malam menerobos ke celah lengan bajuku. Memberikan efek kesejukan di ketiakku yang basah. Entahlah, malam ini terasa gerah sekali. Mungkin langit malam ini terbungkus mendung, aku tak tau, dan juga tak mau tau.

Tak terasa satu jam sudah aku duduk sendirian di teras rumah. Kulirik lagi si Minthy untuk ke sekian kalinya di tengah-tengah kegamangan hatiku, antara memilih pergi ke rumah Sita atau melupakannya selamanya.

Werr... Minthy sudah melaju dengan cepatnya. Aku tak mampu lagi menahan diri untuk menemui Sita. Aku mencintainya, atau lebih tepatnya aku sangat mencintainya. Aku tak ingin terjadi sesuatu padanya. Saat dalam keadaan terpuruk, orang bisa saja nekad melakukan sesuatu di luar nalar kewarasannya.

Tak butuh waktu lama untuk sampai ke rumah Sita. Kenapa banyak orang berkerumun di rumah Sita? Aku masih berdiri di depan pagar rumahnya. Berjuta kehawatiran menyeruak dalam hati. Terdengar suara jeritan tangis perempuan bersahut-sahutan. Aku masih termangu memandangi mereka.

“Minggir, Mas, minggir!” teriak seorang laki-laki dari belakangku. Saat aku menoleh ke belakanga ternyata mereka berempat sedang memikul keranda. Lalu mereka menaruhnya di sisi rumah Sita. Aku mengejar mereka.

“Siapa yang meninggal?!” aku menyergap seseorang seusia ayahku, yang tadi ikut memikul keranda itu.

“Sita... Mengenggak racun tikus... ”

Dalam sekejap, aliran energi dalam tubuhku melenyap. Tubuhku lunglai, tergeletak bersamaan dengan hilangnya kesadaranku.

Tuesday, January 28, 2014

Tukiman dan Jakiran, Balada di Warung Kopi

Balada di Warung Kopi
Kemarin saya meminta untuk dikasih 5 kalimat, yang akan saya coba untuk merangkainya menjadi cerpen. Tapi maaf, hanya beberapa kalimat yang berhasil kurangkai. Diantaranya adalah:

Bunda Imah : mo limo ae
Mirip Ayah : Mung sliramu kang tansah gawe munyenge pikirku
Bara Cuda : ra nggagas
Cerpen ini terinspirasi oleh plesetan-plesetan yang sering dilontarkan oleh Mirip Ayah. Cekidut!

Tukiman dan Jakiran, Balada di Warung Kopi

Udara menyengat begitu panasnya siang ini. Langit hanya berhiaskan mega-mega putih. Tukiman memakai capilnya untuk menghindari sengatan panas itu. Sengatan matahari itu bisa saja membuatnya kulitnya menghitam, dia tentu tak mau membuat istrinya marah karena kulitnya yang menghitam. Jalannya gontai saat berjalan pulang mensyusuri jalan setapak. Sebuah pandangan yang begitu romantis terlihat ketika sebuah pacul bersandar di pundaknya.

“Musim sekarang ini memang susah ditebak,” Tukiman Mengeluh. Bibit padi yang sudah siap tanam masih berbaris rapat di sudut petak sawahnya. Sawahnya masih terlalu kering untuk ditanami padi. Hujan yang dinanti-nanti tak kunjung turun untuk menggenangi sawahnya. Dan siang ini, kegalauan hatinya tek terasa membuat langkahnya salah arah. Sebenarnya dia ingin langsung pulang, tapi malah tersasar ke warung kopi milik Tuminah. Wajahnya lusut, cemberut, mbethuthut, dan carut marut.

“Memangnya musim sedang mengajakmu main tebak-tebakan ya, Man?” celetuk Jakiran.

“Tebak-tebakan gundulmu! Mestinya sekarang ini hujan sedang besar-besarnya, eh ini sawah malah kering kerontang, susah ditebak kan?” Tukiman sedikit emosi. Untung wajah Jakiran terlihat begitu serius mendengarkan ucapannya, jadi emosinya sedikit tertahan.

“Kenapa to, Kang, kok sepertinya galau gitu?”

“Gak ada apa-apa, Tum. Mung sliramu kang tansah gawe munyenge pikirku!”

“Loh, kok bisa aku ini gimana to, Kang?” jawab Tuminah tersipu-sipu.

“Lha piye? Sudah dari tadi ke sini nggak segera dibuatkan kopi! Munyeng iki sirahku!” jawab Tukiman.

“Oalah, iki urusan perkopian toh?” Tuminah sedikit kecewa, karena ternyata bukan dia yang menyebabkan Tukiman galon.

“Yah, Kang, kalau sampeyan kesulitan kan masih ada pilihan fifty-fifty to?” Jakiran masih melanjutkan diskusi mereka. Biasa, warung masih tempat diskusi utara selatan yang representatif hingga saat ini.

“Kamu pikir ini kuis wo wan to be milionare apa? Payah kamu, Ran!” Tukiman kesal.

“Ya kamu itu yang payah, musim kok diajak main tebak-tebakan! Kurang kerjaan pa?” Jakiran masih membela diri.

“Kalau nggak kurang kerjaan, aku nggak mungkin ada di sini sekarang ini, Ran!”

“Kerjaan kan banyak to, Kang? Kok bisa kurang itu diambil siapa?” sanggah Jakiran.

“Diambil bojomu paling, Ran!” Tukiman kesal.

“Lho lho lho, kapan bojoku ngambil, Kang? Kamu jangan main fitnah aja lho, Kang!” Jakiran paling sensitif kalau ada orang yang membicarakan istrinya.

“Alah, Ran.. Sellow, Ran! Selloow!” Tukiman merasa senang karena bisa juga memancing emosi Jakiran. Memangnya Jakiran aja yang bisa bikin orang emosi, desisnya.

“Masih sapar ini, Kang. Sapar, sellow, mulut, bakdo mulut yo damput kowe, Kang!” suaranya Jakiran meninggi.

“Heh, heh, apa sih kok ribut-ribut?” kata Tuminah, sang pemilik warung kopi, saat keluar membawa dua cangkir kopi pesanan Jakiran dan Tukiman.

“Jakiran iki lho, Tum, disuruh sellow eh lha kok malah misuh-misuh! Apa pengen rahasianya kubongkar apa?” Jakiran bisa memanfaatkan peluang dengan sigap. Cling, ada ide lagi untuk membuat Jakiran naik pitam lagi. Hatinya berbunga-bunga, tapi sayangnya bunganya buka bangkai.

“Kopi siji, Yu!” Tukijo datang menyela obrolan mereka. “Eh ada Kang Tukiman sama Kang Jakiran. Pantesan rame banget, kayak pasar Jampet.

“Embuh, Jo! Udah pada tua-tua sukanya gegeeeer aja. Udah kayak artis inpotemen aja!” ujar Tuminah .

“Haha..., cepat Yu kopine! Wes pusing banget iki Yu!”

“Ealah, Jo..., Jo. Tiap kali ke sini kok ya pusiingg aja!”

Obrolan mereka terputus sejenak karena kedatangan Tukijo di samping mereka. “Monggo dilanjut, ha...!” kata Tukijo. Tatapan Jakiran kembali ke arah Tukiman.

“Bongkar aja, Kang. Saya ini orang bersih lho, Kang. Tak ada satu pun aib yang kututup-tutupi!” Jakiran berusaha membela diri, meskipun dalam hatinya merasa was-was, rahasia apa yang diketahui oleh Tukiman itu.

“Eh eh, modelmu udah kayak politisi aja, Ran. Ini namanya curi-curi pencitraan, Ran. Benar nih mau kubongkar rahasiamu?”

“Ayo, bongkar aja!” Jakiran menantang. Dia sudah terlanjur emosi karena istrinya disangkutpautkan dalam seminar kenegaraan itu.

“Istrimu itu, hamilnya tidak sama kamu to, Ran?” ucap Tukiman pelan, sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Jakiran. Dia sengaja ingin memancing emosi Jakiran.

“Apa? Yang bener, Kang?” Tukijo iku terkejut mendengar statemen Tukiman.

“Iya, semua orang di pasar juga pada ngomong!” lanjut Tukiman.

Jakiran berdiri, nafasnya sengal dan tangannya menggenggam. Dalam mode slow motion terlihat, tangan Jakiran melayang ke arah wajah Tukiman. Tuminah yang sedang keluar membawa secangkir kopi untuk Tukijo menjerit, “Aaauuwww!” cangkirnya jatuh ke tanah. Sedangkan Tukiman dengan cekatan menghindar dan menangkis tangan Jakiran.

“Sabar, Ran! Sabar!” Tukijo berusaha meredam emosi Jakiran.

“Aduh, ini gimana to? Boleh ngopi di sini, tapi ojo jotos-jotosan yo Kang yo!” ujar Tuminah sambil memungut cangkir yang jatuh tadi.

“Kamu kalau bicara jangan ngawur, Kang! Bisa saya tuntut nanti di pengadilan!” Jari telunjuk Jakiran menunjuk ke wajah Tukiman.

“Woeh, udah kayak Berkat Ngabbas kamu sekarang!” Tukiman tersenyum sinis. Dan itu membuat Jakiran kian tersulut emosi.

Melihat gelagat Jakiran yang seperti hendak memukul Tukiman lagi, dengan cepat Tukijo mengambil tempat di antara kedua orang itu.

“Tenang, Kang, Tenang! Apa kata orang nanti, kalau diskusi kalian harus terkotori dengan perkelahian. Sabar!” Tangan kanan Tukijo menghadang Jakiran, sedangkan yang kiri menghadang Tukiman.

“Ra nggagas!” jawab Jakiran.

“Sudahlah, Kang, sekarang biarkan Kang Tukiman memberi penjelasan lebih lanjut mengenai statemennya itu!” Tukijo masih berusaha meredam keadaan. Tukiman hanya terkekeh melihat Jakiran yang masih tersulut emosi.

“Mau menjelaskan apa lagi? Sudah jelas-jelas dia telah memfitnah istri saya.”

“Satu lagi, Ran, istrimu itu sebenarnya ahli dalam ma lima....” Tukiman justru kembali ingin membuat Jakiran lebih emosi. Semakin Jakiran emosi, semakin senanglah hatinya.

“Sampeyan benar-benar kurang ajar, Kang!” Jakiran kembali berdiri. Kali ini kakinya yang masih belepotan tanah sukses mengenai dada Tukiman. Keadaan menjadi sangat genting sekali. Tukijo yang berada di antara mereka, tak bisa menahan laju Jakiran. Emosinya yang memuncak, membuatnya mampu mengerahkan seluruh tenaganya untuk menghabisi Tukiman.

Jeritan dan teriakan Tuminah tak lagi bisa didengar oleh Jakiran. Yang ada hanyalah keinginannya untuk memberi pelajaran pada Tukiman. Tukiman yang terkena tendangan A Jakiran, ikut terpancing emosinya. Kopinya yang masih belum terminum itu ia siramkan ke wajah Jakiran. Sontak wajah Jakiran basah kuyup kehitam-hitaman.

Perkelahian pun terjadi. Mereka berguling-guling hingga ke luar warung. “Dasar kurang ajar!!” teriak Jakiran. Mereka masih terus saja berusaha melepaskan pukulannya masing-masing. Suasana makin riuh ketika warga berhamburan untuk melihat apa yang sedang terjadi. Pak Darta yang kebetulan sedang melintas ikut berhenti di sana.

“Heh heh! Ada apa ini!” tanya Pak Darta. Matanya tertuju pada Tukiman dan Jakiran. Pak Darta hanya geleng-geleng kepala. Ia seperti tak percaya ternyata ada warganya yang seperti itu. Tukiman terlihat sedang menindih tubuh Jakiran, sambil memegangi kedua tangan Jakiran. Saat Tukiman menoleh, Pak Darta masih geleng-geleng kepala. Tukiman pun menyadari posisinya dengan Jakiran bisa saja membuat Pak Darta salah paham. Ia segera bangkit dan mendekati Pak Darta.

“Semua tidak seperti yang sampeyan lihat, Pak! Aku tak bermaksud apa-apa sama dia. Dia duluan yang mulai, Pak!” Tukiman mencoba menjelaskan.

 “Kalau tidak ada apa-apa, kenapa sampeyan menindih Jakiran?”

“Tidak, Pak. Dia yang mulai duluan!” Jakiran tak mau kalah.

“Ah, sudah-sudah. Ayo masuk lagi ke warung. Mari kita bicarakan baik-baik di sana!” ujar Pak Darta.

Mereka pun kembali duduk di dalam warung. Namun kali ini Tukiman berada di tempat yang lebih jauh dari Jakiran.

“Sudah, sekarang silakan Pak Jakiran menjelaskan dulu, apa sebenarnya yang sedang terjadi?”

“Tukiman telah memfitnah istri saya, Pak!”

“Memfitnah gimana?”

“Dia bilang istri saya hamil tidak sama saya, Pak!”

“Apa benar itu, Pak Tukiman?”

“Benar, Pak.”

“Sekarang tolong jelaskan, kenapa Pak Tukiman berkata seperti itu?”

“Ya nggak kenapa-napa, Pak. Masalahnya dimana?”

“Lho, kok?”

“Ya jelaslah istri Jakiran hamil tidak sama Jakiran. Pasti dia sendiri yang hamil, Pak. Masak Jakiran ikut-ikutan hamil?” Tukiman menjelaskan.

Semua yang berada di sana tertawa. Tuminah bahkan tertawa sampai terguling-guling.

“Hahaha... Sekarang gimana Pak Jakiran? Masih ada masalah dengan penjelasan Pak Tukiman?”

“A..u...a...u..” Jakiran.

“Ya udah Pak Jakiran. Lain kali kalau mau menanggapi sesuatu, coba dipahami dulu dengan baik. Jangan mudah erosi!”

“Emosi, Pak!” sahut Tukijo.

“Ya itu maksud saya...”