Showing posts with label Catatan. Show all posts
Showing posts with label Catatan. Show all posts

Friday, July 12, 2019

Doa

Rafa, Rafi dan Rojih


Sons,
Kalian adalah anugerah dari Dzat yang Maha mengabulkan do'a.

Maka jadikan do'a sebagai pedang untuk mengalahkan segala halang rintang dalam menggapai mimpi-mimpimu.

Dan ridho Allah SWT adalah sebaik-baik impian.

Friday, February 12, 2016

Eling Lan Waspada

Emas tidak pernah berkata saya adalah benda berharga. Intan juga tak pernah mengatakan saya ini benda yang indah. (sampai di sini mungkin Anda yang menjawab, Ya iya lah, orang gak bisa ngomong! He...) Tapi apa yang terjadi, keduanya selalu dicari oleh manusia, karena keduanya memang berharga.

Kita sering mendengar dan mungkin juga melakukannya sendiri, seseorang setiap kali bicara, setiap kata-kata yang dikeluarkannya adalah dalam rangka memuji diri sendiri, agar terlihat lebih hebat dari yang mendengar atau yang lainnya. Dan pasangannya adalah melemahkan dan pembunuhan karakter orang lain. Dan keduanya adalah jalan pintas bagi orang-orang yang ingin diwowkan oleh orang lain.
Sekejap mungkin orang lain akan meng-iya-kan. Tapi bila itu terjadi berulang-ulang, maka orang lain toh juga akan menyadari, bahwa itu hanyalah seperti iklan yang bolak-balik nongol dalam sebuah acara di televisi.

Kadangkala kita lupa perbedaan "ingin" dan "merasa". Dua kata yang memang berbeda, namun penerapannya dalam hati sering kali salah tempat. Misal, "saya ingin menjadi baik", terkadang di dalam hati berbunyi "Saya rasa, saya ini orang baik". "Saya ingin jadi orang benar", terkadang menjadi "Saya lah yang benar". 

Bukan merasa-nya yang salah, tapi apa yang dirasa-nya yang salah. Kita sering mendengar wejangan Bisaha rumangsa, aja rumangsa bisa. Tapi terkadang yang terjadi adalah, kita memang sudah bisa rumangsa, cuma rumangsa-nya rumangsa bisa. Lantas bagaimana kalau sudah seperti itu?

Urusan hati, hanya Allah yang tahu. Dlemingan di atas sebenarnya saya sampaikan untuk diri saya sendiri. Urusan benar dan salah, bila tempatnya dalam hati itu hanya berbatas sehelai rambut. Ketika kita tidak eling lan waspada, bisa jadi semua yang kita lakukan menjadi sia-sia.

Mohon koreksi.

Tuesday, February 9, 2016

Mimpi yang Akan Tetap Menyala #InternetSehat

Sebelum kita bicara tentang Internet Sehat, terlebih dulu saya ingin menyampaikan apresiasi saya yang setinggi-tingginya kepada para teman-teman yang sangat berdedikasi dalam upaya ikut mengambil peran dalam pembangunan Kabupaten Bojonegoro melalui dunia internet. Saya belum pernah sekalipun bergabung dengan kegiatan yang mereka adakan, namun selalu mengikuti perkembangannya melalui website dan group-group facebook yang ada. Mereka adalah sebuah komunitas yang tergabung dalam Relawan TIK Bojonegoro dan juga Blogger Bojonegoro. Ruh Pengabdian terasa kental sekali bila dilihat dari semua kegiatan yang mereka lakukan. Dan secara langsung, ini adalah contoh nyata dari Internet Sehat.

Entah yang akan saya ceritakan di sini termasuk dalam kategori Internet Sehat, ataukah justru hanyalah hura-hura dan kesia-siaan belaka. Jauh sebelum dunia internet sedahsyat seperti sekarang ini, hobi menulis saya sebenarnya sudah mulai tumbuh. Yaitu saat saya mulai menginjakkan kaki di bangku madrasah aliyah. Di sebuah mading usang, saya sering mempublikasikan tulisan saya. Namun kemampuan menulis saya lambat sekali perkembangannya, mungkin karena saat itu saya tidak tahu kemana saya harus belajar menulis. Dan ironisnya keadaan seperti itu terus berlanjut, saat saya kuliah. Bahkan sampai saat saya telah menikah, saya baru benar-benar dekat dengan internet sebagai media belajar.

Dari situ, saya mulai belajar tentang banyak hal dari internet. Sangat manusiawi, bila kemudian saya betah berlama-lama surfing di dunia maya, mengingat di situ saya mendapati banyak hal yang baru saya ketahui, tentang ini dan itu. Bukankah sifat manusia itu memang senang dengan segala sesuatu yang baru.

Saya mulai belajar blogging dengan tujuan sederhana, yakni untuk menampung coretan-coretan saya. Sambil posting-posting tulisan, saya juga mencari literatur tentang kepenulisan. Bagaimana cara menulis yang baik dan benar.

Hingga kemudian saya berjumpa dengan blog seorang owner penerbit mayor. Dari situ saya mengetahui info bahwa penerbit tersebut sedang mengadakan event menulis #FromZeroToHero. Saya pun ikut berpartisipasi dalam event tersebut. Dan alhamdulillah tulisan saya yang saya beri judul Man Jadda Pasti Wajada termasuk salah satu yang diterima untuk dimasukkan ke dalam sebuah antologi dengan judul Dream To Be a Hero. Ini memang belum apa-apa, tapi setidaknya mimpi saya untuk bisa menembus penerbit mayor sudah sedikit terkabul. Bahwa ada secuil tulisan saya yang sudah terpampang di sebuah buku yang diterbitkan oleh Penerbit Mayor. Dan ini sedikit banyak turut menjaga saya untuk tetap bermimpi.

Saya tahu, menjadi penulis profesional tidaklah semudah mengumbar aib orang lain, oleh karena itu saya memanfaatkan internet sebaik-baiknya untuk belajar menulis. Tapi terkadang mimpi itu meredup juga, oleh karenanya saya mencoba menyalakannya lagi dengan menerbitkan sebuah buku melalui jalur indie. Hanya agar saya mau terus belajar menulis. Buku pertama adalah sebuah kumpulan cerpen yang berjudul Sayap Kupu-kupu, dan buku yang ke dua adalah buku cerita anak yang berjudul Sepeda untuk Fandi.

Oke, Kawan, secuil tulisan saya ini hanyalah tentang mimpi yang akan tetap menyala sampai kapanpun juga, tentang sebuah keyakinan dan perjuangan. Karena bagi saya, tak ada kata terlambat untuk belajar dan berkarya. (@alfarafa)


Saturday, December 5, 2015

Feedback

Apa kabar, Kawan? Saya harap Anda sedang dalam keadaan sehat, dan aman dari segala bentuk gegana, gelisah, galau, merana, yang sebenarnya tengah saya alami saat ini.
Sebagaimana judul tulisan ini, kegelisahan saya adalah tentang feedback atau umpan balik yang saya harapkan datang dari Anda, dia, dan mereka.

Feedback, bagaimanapun bentuknya, menyenangkan ataupun menyakitkan, sebenarnya adalah sesuatu yang sangat berharga, bagi saya dan orang-orang yang masih berada pada tahap belajar.

sumber gambar : www.tradeitstores.com

Karena saya menyadari, tulisan-tulisan saya di blog ini masih banyak sekali kekurangannya, karenanya feedback yang berwujud kritik, saran dan cemoohan begitu saya rindukan, supaya saya bisa belajar dari feedback tersebut. Bila Anda sudah menjelajahi seluruh isi blog ini, anda akan bisa menghitung dengan jari Anda, berapa komentar yang ada di dalam blog ini. Betapa saya miskin feedback.
Sebagaimana iklan minuman segar yang ada di layar kaca saat kita sedang kehausan, seperti itulah gambaran feed back yang ada dalam benak saya saat ini. Begitu menggiurkan. Karena saya sedang haus,  saya merasa begitu membutuhkan minuman itu. Dan tentu iklan minuman segar tersebut tak berarti apa-apa bagi orang yang tidak sedang merasa kehausan. Dan juga sebagaimana saya membutuhkan makanan, apapun itu, saat saya sedang merasa kelaparan.

Pada situs-situs besar, juga sering saya temui ucapan terimakasih di sana, ketika kita memberikan sebuah feed back pada mereka. Hal ini semakin membuktikan bahwa feedback memanglah teramat penting bagi mereka yang selalu ingin berbenah diri dan merasa belum sempurna.
Dalam kehidupan nyata, feedback yang berupa kritik, saran dan cemoohan seringkali ditolak mentah-mentah dengan emotikon muka berwarna merah. Iya, saya hanya bilang sering, tidak selalu. Sebaliknya, feedback manis akan mendapatkan sambutan hangat dengan kedua tangan.

Dan saya sendiri, khususnya, secara tidak sadar telah memperlakukan feedback seperti itu. Mungkin, karena sikap saya yang seperti itu, perjalanan belajar saya dalam dunia blogging, tulis menulis dan proses belajar saya dalam kehidupan nyata mengalami stagnasi, alias macet.

So, please, give me a feedback to all of my articel on comment box. :)

Tuesday, December 1, 2015

Luas Waktu = Tindakan Diri

Ada sebuah waktu dimana kita justru menertawakan tangis, saat kita berada sejengkal di depannya.

Ada sebuah waktu dimana kita merasa hidup kedua kalinya, setelah kita merasakan hidup ini seperti tlah mati.

Ada sebuah waktu dimana kita merayakan sepi, yang kesunyiannya memekakkan hati. Lalu kita berdoa, esok mentari terbit bersama sebuah harapan, meski kita tahu sepi akan merantai malamnya.

Ada sebuah waktu dimana mata terpejam, sedangkan hati berurai air mata, berusaha memahami dinding gelap di depan kita berpijak.

Ada sebuah waktu dimana kita tak mengerti irama detak jantung sendiri, dan kemana darah ini akan mengalir.

Ada sebuah waktu yang tak pernah terbersit sedikitpun wujudnya dalam imaji, namun ia membuka tangannya menyambut pelukmu.

Bila waktu ini sebuah permadani, maka keluasannya adalah tindakan diri. Kepadamu diserahkan, dengan apa kau meluaskannya.

Kawan, kita tak butuh sangkar emas untuk kita tinggali, kita hanya butuh tempat yang memberi kita ruang untuk mendendangkan suara hati, agar kita tak pernah lupa bahwa segumpal darah ini mesti berarti.

Sunday, November 15, 2015

Siapakah dia?



Siapakah dia, seseorang yang hatinya bergetar saat mendengar kabar bahwa janinmu telah ada di rahim ibumu? Lalu dia menyiapkan rencana-rencana terbaik untuk kehidupanmu dan hatinya bertekad mengerahkan seluruh tenaganya demi kebahagiaanmu.

Siapakah dia, seseorang yang lenyap seketika lelah dan sedihnya, hanya karena melihat wajahmu?

Siapakah dia, seseorang yang selalu siap siaga, saat kau membutuhkan bantuan?
Siapa lagi kalau bukan "Ayah".

Seseorang yang memberikan seluruh tenaganya, demi memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Dan ia sama sekali tak merasa sedih ataupun kecewa, manakala ia harus menjadi yang ke empat setelah ibumu.

Ayah adalah seseorang yang menyimpan kesedihannya untuk dirinya sendiri, dan menjadikan kebahagiaanmu sebagai impiannya.
Saat kau mulai tumbuh menjadi remaja (yang gagah di matanya), ia mulai merasa gelisah, karena kau mulai malu untuk diciuminya, sedangkan hasratnya untuk menciummu, masih sama seperti saat kau masih bayi. Karenanya, ia melampiaskan kerinduannya kepada anak-anakmu, cucunya.

Ayah, bila ibu adalah jantungku, engkaulah darahku. Darah juangmu kini mengalir deras di diriku.

Selamat Hari Ayah, 12 November 2015.

www.sesuatu.my.id

Monday, February 9, 2015

Menangkap Masa Depan



Hi, Guys, kita semua tahu, setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan. Dan karena keduanya itulah, penting bagi kita untuk mengenali diri agar bisa survive di masa depan. (Penting Ya?!)

Masa-masa sekolah seperti yang kamu jalani saat ini memang indah bukan? What’s? Kamu sedang jomblo? Dan karena kejombloan itu lantas kamu bilang kehidupanmu gak indah? Yakin?!

Saat ini seakan-akan telah terbuat kesepakatan umum, bahwa jomblo adalah ngenes, ngenes adalah jomblo. Dan selihai apapun jombloers mencoba untuk menampangkan kebahagiaan, sepertinya orang sekitar juga tetap akan menganggap para jombloers ngenes. Tapi coba deh dipikir lagi, tuduhan itu jelas tak beralasan kuat khan? Sebenarnya kamu tetap bisa kok mengelak. Untuk urusan yang satu itu kamu emang kudu kreatif membangun kekuatan agar tak terluka karena buli orang-orang sekitar kamu. Bisa kamu aja kamu katakan “Gue ini High Quality Jomblo”, “Meski jomblo, tapi gue tetep keren..”, atau juga bisa aja kamu katakan “Banyak yang ngantri ma gue, cuman belum ada yang cocok ajah..”. Yah, pokoknya bikin sekreatif mungkin lah, dan kamu kudu bisa menyakinkan mereka semua. 

Stop!! Kembali ke topik ya, Guys. Ada yang mengatakan bahwa sukses itu adalah ketika kesempatan yang datang berjodoh dengan kemampuan yang kamu miliki. Percuma khan, ketika datang kesempatan untuk meraih kesuksesan, namun kamu gak bisa menangkap tuh peluang, hanya karena kamu gak punya sesuatu untuk menangkap. Apakah sesuatu itu? Ya, potensi kamu.

Lanjut. So, untuk mengantisipasi supaya itu gak terjadi padamu, langkah pertama yang bisa kamu lakukan adalah mengenali diri. (Tapi gue kan udah kenal ma gue sendiri?” Yakin? Mari kita lanjutkan apa bener kamu udah ngenalin diri kamu sendiri. Mudah ada, jawab aja beberapa pertanyaan di bawah ini! Jangan nyontek temen sebelah kamu ya.

Pertama, apa aja kelebihan yang ada pada dirimu?

Inventarisir semua kelebihan yang ada padamu, meski se kecil biji dzarrohpun, tulislah. Jangan sungkan untuk mengakui kalo itu adalah kelebihan kamu. Oke, udah ada 10 lebih daftar kelebihan kamu yang udah kamu catat. Lanjut.

Ke dua, apa aja kelemahan kamu?

Harus adil dong, kalo tadi kamu menulis semua kelebihan yang kamu miliki, sekarang kebalikannya, tulis semua kelemahan yang kamu miliki. Dan tentu, sekecil biji dzarrohpun kelemahan itu, tetep kudu kamu tulis. Baik, sekarang sudah ada 20 lebih daftar kelemahanmu yang udah kamu catat. Lebik banyak ya? No problem, kok.

Sambil kamu melanjutkan membaca, gak mengapa bila kamu ingin menambahkan kedua daftar di atas, bila ada yang baru keingat. Suka kentut sembarangan, misal. :p. Skip. Dari kedua daftar yang ada itu, yang bisa kamu lakukan tentunya adalah memaksimalkan semua kelebihan yang kamu miliki, dan meminimalkan kelemahan yang ada.

Ada juga kelemahan yang bisa kamu sulap menjadi kekuatan. Sebut aja Narji, misalnya. Selain memang ia memiliki bakat ngelawak, ia juga memanfaatkan keje**ekan wajahnya untuk mendukung lawakannya. Nah, itu namanya cerdas. Menyulap kelemahan menjadi kelebihan. Bisa?

Kembangkan semua kelebihan itu, sampai kau temukan passionmu. Iya... Sesuatu yang paling cocok denganmu. Itulah passionmu. Udah gitu, yang bisa kamu lakukan adalah terus mengembangkan passion kamu itu.

Baru nanti, ketika saatnya “kesempatan” untuk menuju kesuksesan yang berkesesuaian dengan kelebihan kamu itu datang, kamu udah dalam keadaan siap untuk menyambutnya. Oke guys, salam mendut.

Monday, February 3, 2014

Tak Fokus = kosong

Akibat terlalu banyak menyerap informasi lomba-lomba menulis, justru mengakibatkan tak ada satupun lembar tulisan yang bisa kuhasilkan.


Tentu saja saya ingin memenangkan lomba itu, maka saya mencari lagi artikel tentang teknik menulis yang bahenol. Di titik ini, stagnasi secara otomatis berjalan lebih lama. Waktu yang mestinya bisa aku gunakan untuk menulis, apapun dan bagaimanapun hasilnya, hanya saya gunakan untuk lagi-lagi belajar teknik menulis yang sip markusip, yang ironisnya tak segera saya followup-i.


Ditambah lagi godaan untuk mantengin twit-twit para penulis kondang, dan juga status-status berbau galau dan narsis. Banyak sih sebenarnya manfaatnya, tapi kalau keterusan, jadinya waktu saya terkuras habis.


Belum lagi kepikiran tentang rintisan novel pertama yang masih mangkrak di kandang. Tak juga terangkai selesai, biar jadi sesuatu.


Berjam-jam berlalu tanpa ada sesuatupun yang kutulis. Selalu begitu.
Entahlah. Mungkin saya sedang butuh bertemu sama Mas As Laksana.

Happy Birthday Diva Press #13thAnniversaryDiva @divapress01


Selamat Ulang Tahun yang ke 13 Diva Press, semoga panjang umur, selalu menghadirkan buku-buku yang sip markusip, top markotop, jos gandos, dan selalu intens mengembangkan dunia literatur di bumi Indonesia. 
Gambar-gambar di bawah ini hanyalah dokumentasi twitpic saya untuk ulang tahun Diva Press #13thAnniversaryDiva


ULTAH DIVA PRESS ke 13


ULTAH DIVA PRESS ke 13

ULTAH DIVA PRESS ke 13





ULTAH DIVA PRESS ke 13

Ultah DIVA Press ke-13

Sunday, February 2, 2014

Jalan Buntu

Berjam-jam di depan laptop setiap hari hanya bengong aja gue. Gak tau mau nulis apa. Hanya sibuk baca status-status galau di facebook, dan twit twit yang selalu membuatku ngiri. Kalau mereka bisa kenapa gue nggak. Huft, pengen banget jedotin jidat gue ke susu mak-mak perot.
Pikiran buntet, gak  bisa merintah jari-jari gue untuk nulis apa kek gitu. Gue sering pakai alasan block writer. Tapi kata para penulis hebat itu hanyalah alibi dari sebuah kemandegan. Tapi sumpah deh, gak ada inspirasi apapun yang bisa gue tulis beberapa hari terakhir ini. Padahal gue juga udah nggak mikir gimana bentuk tulisan gue itu, misalnya gue jadi nulis. Mau baik kek, jelek kek, kampret kek, gue udah nggak mikiran itu semua, gue hanya pengen jari-jari gue kembali mengetik di keyboard notebook gue ini.
Di sisi lain, ketika gue buka akun twitter somebody gitu, di profilnya kan tertulis tuh link blognya. Nah, setelah gue buka ternyata tulisan mereka keren-keren banget, bahkan beberapa di antaranya sudah memajang hasil karya-karyanya. Novel lah, kumcer lah, antologi lah, puisi lah. Busyeet... kenapa mereka bisa hebat gitu ya nulisnya. Nggak kayak gue yang kerdil banget gini.
Proyek novel gue yang pertama harus ngadat tengah jalan, gara-gara gue nggak ngikutin alur yang bener dalam penulisan novel. Sebenarnya itu nggak perlu terjadi kalau gue ngebuatnya dengan mematangkan outline dulu. Nah, kalau sudah ngadat gini tanggung jawab siapa? Gak mungkin dong gue serahin ama Kakak @edi_akhiles. Bisa-bisa bikin beliau bete berminggu-minggu.
Pengennya sih memulai lagi cerita yang baru. Tapi ampun deh, susah banget dapat ide. Otak gue udah mampet kali ye...
Oh, Tuhan, tolongin gue, atau gue lupain aja semua ini.....

Saturday, December 28, 2013

Semacam Review #Penjaja Cerita Cinta


Cover

Penjaja Cerita Cinta

Judul               : Penjaja Cerita Cinta
Penulis             : @edi_akhiles
Penerbit           : DIVA Press, Yogyakarta
Cetakan 1        : Desember 2013
Tebal               : 192 halaman

Hiruk pikuk anak-anak SMAI Wasilatul Huda yang mengikuti Smahda Great Camp (SGC) 2013 sama sekali tak mereda, meski gumpalan mendung itu mulai mencair menetes ke bumi. Terdengar dari kejauhan perang yel-yel antar regu, berebut kue eksistensi. Dan saya sendiri, yang Ketua Panitia, yang penuh wibawa, dan yang penuh kharisma ini, sedang sibuk menandatangani buku kegiatan para peserta, sebagai bukti bahwa mereka telah ikut melaksanakan satu agenda kegiatan. 
Dengan tetap berseragam pramuka lengkap ini, aku lebih seperti seorang polisi ketimbang seorang pramuka. Baju ketat, celana ketat, dada bidang, dan lengan yang besar, dan banyak alasan lain yang membuat banyak diantara mereka mengatakan aku seperti polisi. 
Ah, tuntas sudah aku menanda tangani buku kegiatan mereka itu. Capekknya badan ini, membuat bayangan pijatan Pak Kasim, (Tukang Pijat) begitu enak di angan. Tapi pijatan pelepas lelah itu tak mungkin ku rasakan saat ini, karena kegiatan SGC 2013 ini masih akan berjalan dua hari lagi.

Mandi. Yah mandi. Mungkin dengan mandi, lelah di tubuh ini sedikit berkurang. Ku langkahkan kakiku menuju ke rumah Bapak, yang hanya berjarak 50 meter dari sekolah, tempat kegiatan itu dilaksanakan. Bapak sedang memotongi lembaran kain yang hendak dibuatnya baju itu, saat aku sampai di rumahnya. “Tok, tadi ada paketan dari Jogja,” katanya menjemput kehadiranku.

Tanpa menunggu perintah, anganku langsung terbayang sebuah buku dengan cover yang sering ku lihat di internet itu. #PenjajaCeritaCinta. Juga bayangan sebuah wajah yang juga tak asing di twitterku, @Edi_Akhiles. Oh My God. Ternyata dugaanku seratus persen benar. Setelah lama aku nanti-nantikan, akhirnya sampai juga buku ini di tanganku. Pada masa penantian yang lalu, aku bahkan sudah berpikir bahwa commentku di blognya Kak @Edi_Akhiles itu tak membuatku dapat jatah untuk mendapatkan buku ini.

Mandi, Shalat Ashar dan kembali berseragam Panitia SGC 2013 sudah tunai ku laksanakan. Kini waktunya kembali ke sekretariat. Hati tenang karena sudah shalat, hati sumringah karena dapat kiriman buku. Sebuah buku istimewa, berstatus hadiah, lengkap dengan tanda tangan penulisnya. Betapa istimewanya buku ini.

Tak sabar aku ingin membaca buku ini. Kucari  tempat duduk yang paling nyaman di sekretariat itu. Kuambil posisi duduk menghadap ke depan, di belakang meja sekretariat. Dari kejauhan aku pasti terlihat sangat berwibawa, dan juga kutu buku banget. Baru satu paragraf ku baca, Endrik (ketua Regu Djokowi) dan Ghofur (Ketua Regu Suka-Suka Kura), biasa ku panggil dia Si Cungkring, karena perawakannya yang kurus kering, Lung lit, balung karo kulit,  datang menyodorkan padaku dua tumpuk buku kegiatan yang harus aku tanda tangani.

“Buku apa tu Kak?” tanya Endrik.
“Kumcer, bukan sembarang kumcer.” Nih anak udah ganggu, pakai nanya-nanya lagi.
“Boleh pinjem nggak Kak?”Hadah, Si Ghofur cungkring itu, malah ikut-ikutan lagi. Oe, mana sopan santunnya??
“Boleh, entar kalau udah lebaran kucing,” jawabku sekenanya aja. Nggregetno wong dakman. 

Jadi teringat dengan tulisan usil di dinding kamar kosan waktu kuliah dulu, “Bodoh, bila kita meminjamkan buku ke orang lain, dan lebih bodoh lagi bila mengembalikan buku yang kita pinjam.” Hemmm, rese banget nggak tulisan macam itu. Bisa-bisa mengganggu stabilitas nasional kalau dibiarkan. Hehehe.

Selesai kutanda-tangani semua, segera ku raih buku #PenjajaCeritaCinta yang dari tadi dilihat-lihatin sama si Djokowi itu.

Sepertinya tak mungkin aku baca buku ini di sini. Mungkin saja sih, tapi bila kubaca sekarang, aku tak akan bisa menikmati sajian lezatnya dengan maksimal. Tapi bila tak ku baca sekarang, mana kuat aku menahan rasa penasaran ini? Hemmm...

PENJAJA CERITA CINTA
Ya sudahlah, ibarat makanan, aku putuskan untuk sekedar icip-icip dulu lah. Ku pilih judul pertama untuk ku icip. Tak tanggung-tanggung, judul pertamanya adalah yang menjadi judul buku ini. Penjaja Cerita Cinta. Kesetiaan, Rindu, Perpisahan dan Kenangan. Membaca paragraf pertama, aku seperti ikan yang baru aja menyambar umpan yang barusan dilemparkan sama pemancing. Sebuah paragraf yang telak membuat aku dan mungkin semua orang penasaran bila membacanya.
Simak aja paragraf ini!

Rumah yang kucari ini lebih tepat disebut kastil. Tak ada rumah lain di sekitarnya. Ya, hanya sendiri berdiri dalam sepi. Debu-debu kering bisa beterbangan demikian berantaknya meski hanya secuil angin yang melenguhinya. Pagarnya begitu congkak seolah berkata pada dunia, “Ada kehidupan paling rahasia di dalamnya, jangan ganggu ia atau kematian kan menyambarmu segera!”

Secepat kilat aku terlempar di depan pagar rumah itu. Merasakan kesunyiannya. Dan juga keangkerannya. Dan tentu saja aku merasa ingin tau sekali apa yang ada dibalik pagar setinggi 3 meter itu.

“Kak, saya mau ijin keluar sebentar,” busyet dah, si cungkring datang lagi.
“Mana kartu pass-nya?”
“Ini Kak”
“Ya udah, 10 menit harus sudah kembali lagi!” bentakku penuh berwibawa
“Siap Kak!”

Lanjut... Penjaja Cerita Cinta Ini membawahi 4 sub bab, yaitu kesetiaan, rindu, perpisahan dan kenangan. Kesemuanya tersaji begitu indah, dalam larik-larik kalimatnya.
Lihatlah bagaimana kesetiaan itu tergambarkan secara gamblang dari ucapaan-ucapan senja ini:

Aku selalu percaya janjimu untuk menjemputku saat senja di tepian teluk seperti dulu kamu pergi saat senja di tepian teluk...”

Kalimat yang diucapakan oleh senja (tokoh dalam cerita si penjaja cerita itu), membuat nyonya srintil begitu merasakan kesetiaan senja. Begitu juga aku yang membacanya.

Apalagi ucapan senja yang ini, “Aku sudah lupa bagaimana rasanya lelah menunggu. Tapi aku selalu ingat tentang kamu yang berjanji akan datang kala senja yang selalu setia ku tunggu...”

Begitu juga tentang rindu. Pada sub bab rindu ini, aku langsung dibawa menuju pada kerinduan yang sedalam-dalamnya melalui paragraf pertamanya. Lihat aja cuplikan kalimat di bawah ini!

Jika ada rindu yang mewartakan rindu yang sangat menyayat hati pemiliknya, pastilah rindu yang dirasakan itu belumlah sepekat rindu yang beremayam di hati Senja.

Oh, My God. Adakah rindu yang lebih besar lagi daripada rindu yang terungkap pada kalimat di atas? Cerita pertama ini membuatku tak lagi sekedar icip-icip. Ibarat makan, tadinya hanya ingin makan “sak pulukan”, tapi nyatanya aku keblabasan hingga satu piring habis kumakan. Lezat kali makanan ini.. hemmm. Mak nyuss..

Meski cerpen ini tidak lagi pendek, namun bagi tidaklah mengurangi keabsahannya sebagai cerpen. membacanya pun tak terasa melelahkan, karena memang cerita ini selalu membuat kita ingin membacanya hingga akhir. Dan di setiap sub babnya menjadi satu keutuhan dalam cerita ini. Mewek dah istriku ketika ku ceritakan kisah Senja ini padanya di malam harinya.

Membaca Penjaja Cerita Cinta ini akan membuat kita malu, karena kesetiaan kita tak seberapa bila dibandingkan dengan kesetiaan Senja. Juga bagaimana menjalani rindu dengan ikhlas, meski rindu telah mengharu biru.
***
Malam harinya, jadwal kegiatan SGC 2013 adalah Pentas Seni. Dan sebelum pentas seni itu dilaksanakan, terlebih dulu kami nonton bersama TIMNAS VS Thailand, namun itu tak sampai selesai. Saat Timnas menderita kekalahan 0- 1 dari Thailand, kami segera mengakhirinya dan melanjutkan kegiatan pentas seni.  Semua peserta SGC berteriak meminta melanjutkan nonton bareng, tapi kami memutuskan untuk tidak dihunjami kekecewaan lebih lama lagi.

Setelah ku pastikan semua panitia dan penampil siap, segera ku serahkan kegiatan pentas seni itu pada pembawa acaranya, Kak Siswoyo. Ku berjalan menyusuri teras kelas di sekolah ini.  Mencari tempat agak menyendiri, tepatnya di ujung paling utara. Di belakang para peserta perkemahan SGC 2013 ini. Mereka kian antusias ketika peserta pentas seni pertama menampilkan teater sederhana tentang “Siswa Ndableg” yang berarti Siswa Bandel. Meski latihan ala kadarnya, mereka begitu menjiwai cerita itu. Mungkin karena karakter tokohnya tak jauh dari karakter mereka sebenarnya. Kikikikikik. Berharap bisa dengan leluasa kembali bercumbu dengan buku Penjaja Cerita Cinta ini, ku cari tempat duduk yang paling nyaman, dan dengan posisi duduk yang se....enak-enaknya.

LOVE IS KETEK
Judul kedua dalam buku ini adalah Love is Ketek. Jauh dengan cerita yang pertama, cerita kedua ini bikin perut kaku, bukan karena sit up, tapi karena kecapekan ngakak. Habis makanan manis nan legit, kini kita dihidangi dengan rasa asam, kecut. Bukan kecut dalam konotasi jelek. Hanyalah upaya untuk menggambarkan betapa kontrasnya cerita pertama dengan cerita yang ke dua ini. Tapi di balik cerita kocaknya itu, sebenarnya cerita ini tersirat pesan yang sangat indah sekali. Terbalut dengan dialog-dialog yang ringan, lucu, dan juga renyah, cerita ini memberikan sebuah perspektif unik dalam menjalin sebuah hubungan dengan pacar ataupun istri kita.

Berikut ini contoh dialog yang renyah banget itu:
“Oke, fine!”
Matiihh gue...
Kalau Parmini sudah bilang gitu (“Oke, fine!”), perang dah! Apal banget gue!
Gimana gimana gimana? Renyah kali kan? Itu baru tiga baris kalimat pertama yang nongol dalam cerita ini. Selanjutnya, terserah anda.

CINTA YANG TAK BERKATA-KATA
Dari kisah cinta Parmini, kita lanjutkan ke cinta seorang penyair. Ini adalah cerita seorang perempuan yang memiliki kekasih yang gemar berpuisi ria. Mencitainya dengan puisi-puisinya indah. Di setiap perjumpaannya, kekasihnya selalu memperkosanya dengan puisi-puisinya yang memang gagah itu. Namun itu dilakukan berulang-ulang, hingga sang kekasih menyadari satu hal dari sebuah kalimat yang berbunyi “Setiap kata selalu memproduksi makna yang berbeda. Kadang, bahkan kata mendustai makna dirinya sendiri. Semakin terulang sebuah kata, semakin terkikislah maknanya, semakin terdustakanlah makna aslinya...”

Tidak terlalu nyastra dan tidak terlalu ngepop. Cerita ini real. Cerita ini menunjukkan bagaimana cara mencintai seseorang dengan cara yang benar. Cinta yang tidak hanya lahir di mulut, tetapi cinta dengan tindakan nyata. Namun sebenarnya tidak hanya itu, ada (tidak sedikit) pesan yang tersirat di balik cerita ini. Dan aku tak ingin memaksakan pesan itu pada sobat semua. Mungkin saja pesan yang sobat ambil nanti lebih cemerlang dari pada pesan yang berhasil ku kail. Amazing banget deh pokoknya. Alhamdulillah, saya termasuk orang yang beruntung bertemu dengan buku Penjaja Cerita Cinta ini.

“Gimana Kak penampilan saya tadi?” Busyet dah, si Cungkring tiba-tiba aja nongol di belakangku. Ngagetin orang aja!
“Bagus, bagus!” jawabku seolah-olah telah menyaksikan penampilannya. Kubenahi dudukku, agar tidak mengurangi kewibawaanku di matanya.  
“Beneran Kak?” Dia malah ngambil posisi duduk di sampingku. Uh, ni anak nggak ponya sopan santun banget sih. Udah pasang wajah wibawa gini juga. Masih aja sok dekat.Ciaaaaaaaat...
“Iya, benar! Bagus banget malah. Lebih bagus lagi kalau sekarang kamu kembali ke sana!” ngempet emosi mode on.
“Kalau bagus, berarti nanti aku boleh pinjam bukunya itu dong?” tanyanya lagi.
“Emang aku pernah bilang gitu?” tanyaku dengan nafas ala Bang Haji saat marah.
“Enggak Kak...” wajahnya menggigil, saat ku tampilkan wajah galak, dengan mata sedikit melotot. Selangkah demi selangkah dia berjalan menjauhiku. Hahahahaha..

Lanjut...
DIJUAL  MURAH SURGA SEISINYA
Cerpen yang satu ini bercerita tentang orang kaya yang sedang rekreasi di Candi Borobudur. Ada seorang Pak Tua yang terus mengikutinya untuk menawarkan tentang obat kejantanan pada awalnya. Tapi karena orang kaya tadi menggubrisnya, akhirnya dia menawarkan sebuah rahasia masuk surga. Taukah anda apa rahasianya? Beramal seribu rupiah tiap jumat, ketika kita mengikuti shalat Jum’at.

Tapi hati-hati ketika ingin me-murodi cerita ini, karena menurut saya cerita ini bergaya menyindir yang dalam bahasa jawa lebih tepatnya ngelulu. Secara sekilas, kita bisa saja terjebak dengan cerita yang ada. Bahwa hanya dengan bersedekah seribu rupiah kita akan masuk surga.

Seperti kebanyakan dari kita, yang berat sekali untuk beramal jariyah, tapi sekalinya beramal kita langsung mengklaim diri berhak untuk menjadi penghuni surga. Padahal amal jariyahnya tidak ada satu  persen dari semua jumlah kekayaan kita. Astaghfirullah.

Lihatlah bagaimana paragraf ini berkelakar:
Usai shalat, sambil menunggu Subuh, aku mondar-mandir ke depan dan belakang rumah. Setiap kali aku melintas di garasi, ku tatap dalam-dalam wajah sunyi SLK 250, Jazz RS, CRV, Mazda CX6, Kawasaki ER6, dan vario yang diam seribu bahasa. Ya Allah, jika memang kini harga surga sudah diobral sedemikian murahnya, berarti Vario ini saja sudah cukup untuk menghantarkanku dan istriku masuk surga. Apalagi jika semua nilai kendaraan ini diuangkan, bukankah penduduk sedesa Jomblangan ini akan masuk surga semua?! 

Ampun deh, buku ini bener-bener berisi Cerita Beribu Rasa dengan Ragam Teknik Bercerita. Persis seperti yang tertulis di covernya. Padahal ini baru 4 judul yang aku baca. Masih ada 14 judul lagi. Yaitu: Menggambar Tubuh Mama, Secangkir Kopi untuk Tuhan, Tak Tunggu Balimu, Cinta Cantik, Tamparan Tuhan, Abah I Love You, Cerita Sebuah Kemaluan, Munyuk, Lengking Hati Seorang Ibu yang Ditinggal Mati anaknya, Aku Bukan Batu!!!, Si X Si X Si X and God. Semuanya tersaji dengan bingkisan dan rasa yang berbeda-beda. Nyesel banget deh pokoknya kalau seumur hidup nggak baca buku ini. Ada bonus tips menulis di bagian akhirnya, Hindari “Dosa-dosa Preett” ini dalam Menulis.

Sekilas tentang Penulis :

Buku ini ditulis oleh @edi_akhiles. Nama Aslinya adalah Edi Mulyono. Lahir di Lalangon, Manding, Sumenep, Jawa Timur. Dia adalah salah satu Angkatan Sastra 2000, dan dianugerahi Pegiat Sastra di Yogyakarta oleh Balai Bahasa Yogyakarta. Menempuh pendidikan S1nya di IAIN (sekarang UIN) Sunan Kalijaga, Fakultas Syariah, Jurusan Perbandingan Madzhab dan Hukum (PMH), Magister (S-2) di kampus yang sama, Jurusan Filsafat Agama. Dan kini tinggal menyelesaikan S-3nya di kampus yang sama pula, Islamic Studies.

Diantara karya-karyanya yang telah dibubukan adalah : Andai Aku Jalan Kaki, masihkah Engkau Selalu Ada Untukku?; Ah, Tuhan Sayang Padaku, Kok; Trio (Lebih) Macan!; Brengseknya Aku!; Thx For Auratmu; Orang Pelit Pantatnya Item; Hari-hari Paling Menyebalkan dalam Hidupku; Rogoh Ah...; dan yang terakhir ada CEO Koplak.

Kulirik penunjuk waktu yang ada di pojok kanan bawahku, di sana tertera 0:45. Hening,Tinggal suara-suara jangkrik yang terdengar saat ini. Ah, sudahlah. Kasian juga mataku nih, tiga hari terakhir ini kurang tidur. Cium anak tersayang, dan k*lon sama istri tercinta.. Sedap gila..
Tok tok tok... tok tok tok... Ah siapa juga malam-malam gini main ke rumah? Nyebelin banget sih! Mana sudah On Fire juga, huh! Dengan berat hati aku lengser dari ranjang, dan keluar untuk melihat siapa yang datang. 

Kriieeettt.........

Wajahnya meringis. “Kak, boleh pinjem bukunya nggak?”
“Cungkriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii..................gggggg!!!@@??!!!”


Penjaja Cerita Cinta
Yang kiri itu aku @alfafa dan yang kanan sepupuku Hamid Al- Fajri