Tukiman dan Jakiran, Balada di Warung Kopi

Balada di Warung Kopi
Kemarin saya meminta untuk dikasih 5 kalimat, yang akan saya coba untuk merangkainya menjadi cerpen. Tapi maaf, hanya beberapa kalimat yang berhasil kurangkai. Diantaranya adalah:

Bunda Imah : mo limo ae
Mirip Ayah : Mung sliramu kang tansah gawe munyenge pikirku
Bara Cuda : ra nggagas
Cerpen ini terinspirasi oleh plesetan-plesetan yang sering dilontarkan oleh Mirip Ayah. Cekidut!

Tukiman dan Jakiran, Balada di Warung Kopi

Udara menyengat begitu panasnya siang ini. Langit hanya berhiaskan mega-mega putih. Tukiman memakai capilnya untuk menghindari sengatan panas itu. Sengatan matahari itu bisa saja membuatnya kulitnya menghitam, dia tentu tak mau membuat istrinya marah karena kulitnya yang menghitam. Jalannya gontai saat berjalan pulang mensyusuri jalan setapak. Sebuah pandangan yang begitu romantis terlihat ketika sebuah pacul bersandar di pundaknya.

“Musim sekarang ini memang susah ditebak,” Tukiman Mengeluh. Bibit padi yang sudah siap tanam masih berbaris rapat di sudut petak sawahnya. Sawahnya masih terlalu kering untuk ditanami padi. Hujan yang dinanti-nanti tak kunjung turun untuk menggenangi sawahnya. Dan siang ini, kegalauan hatinya tek terasa membuat langkahnya salah arah. Sebenarnya dia ingin langsung pulang, tapi malah tersasar ke warung kopi milik Tuminah. Wajahnya lusut, cemberut, mbethuthut, dan carut marut.

“Memangnya musim sedang mengajakmu main tebak-tebakan ya, Man?” celetuk Jakiran.

“Tebak-tebakan gundulmu! Mestinya sekarang ini hujan sedang besar-besarnya, eh ini sawah malah kering kerontang, susah ditebak kan?” Tukiman sedikit emosi. Untung wajah Jakiran terlihat begitu serius mendengarkan ucapannya, jadi emosinya sedikit tertahan.

“Kenapa to, Kang, kok sepertinya galau gitu?”

“Gak ada apa-apa, Tum. Mung sliramu kang tansah gawe munyenge pikirku!”

“Loh, kok bisa aku ini gimana to, Kang?” jawab Tuminah tersipu-sipu.

“Lha piye? Sudah dari tadi ke sini nggak segera dibuatkan kopi! Munyeng iki sirahku!” jawab Tukiman.

“Oalah, iki urusan perkopian toh?” Tuminah sedikit kecewa, karena ternyata bukan dia yang menyebabkan Tukiman galon.

“Yah, Kang, kalau sampeyan kesulitan kan masih ada pilihan fifty-fifty to?” Jakiran masih melanjutkan diskusi mereka. Biasa, warung masih tempat diskusi utara selatan yang representatif hingga saat ini.

“Kamu pikir ini kuis wo wan to be milionare apa? Payah kamu, Ran!” Tukiman kesal.

“Ya kamu itu yang payah, musim kok diajak main tebak-tebakan! Kurang kerjaan pa?” Jakiran masih membela diri.

“Kalau nggak kurang kerjaan, aku nggak mungkin ada di sini sekarang ini, Ran!”

“Kerjaan kan banyak to, Kang? Kok bisa kurang itu diambil siapa?” sanggah Jakiran.

“Diambil bojomu paling, Ran!” Tukiman kesal.

“Lho lho lho, kapan bojoku ngambil, Kang? Kamu jangan main fitnah aja lho, Kang!” Jakiran paling sensitif kalau ada orang yang membicarakan istrinya.

“Alah, Ran.. Sellow, Ran! Selloow!” Tukiman merasa senang karena bisa juga memancing emosi Jakiran. Memangnya Jakiran aja yang bisa bikin orang emosi, desisnya.

“Masih sapar ini, Kang. Sapar, sellow, mulut, bakdo mulut yo damput kowe, Kang!” suaranya Jakiran meninggi.

“Heh, heh, apa sih kok ribut-ribut?” kata Tuminah, sang pemilik warung kopi, saat keluar membawa dua cangkir kopi pesanan Jakiran dan Tukiman.

“Jakiran iki lho, Tum, disuruh sellow eh lha kok malah misuh-misuh! Apa pengen rahasianya kubongkar apa?” Jakiran bisa memanfaatkan peluang dengan sigap. Cling, ada ide lagi untuk membuat Jakiran naik pitam lagi. Hatinya berbunga-bunga, tapi sayangnya bunganya buka bangkai.

“Kopi siji, Yu!” Tukijo datang menyela obrolan mereka. “Eh ada Kang Tukiman sama Kang Jakiran. Pantesan rame banget, kayak pasar Jampet.

“Embuh, Jo! Udah pada tua-tua sukanya gegeeeer aja. Udah kayak artis inpotemen aja!” ujar Tuminah .

“Haha..., cepat Yu kopine! Wes pusing banget iki Yu!”

“Ealah, Jo..., Jo. Tiap kali ke sini kok ya pusiingg aja!”

Obrolan mereka terputus sejenak karena kedatangan Tukijo di samping mereka. “Monggo dilanjut, ha...!” kata Tukijo. Tatapan Jakiran kembali ke arah Tukiman.

“Bongkar aja, Kang. Saya ini orang bersih lho, Kang. Tak ada satu pun aib yang kututup-tutupi!” Jakiran berusaha membela diri, meskipun dalam hatinya merasa was-was, rahasia apa yang diketahui oleh Tukiman itu.

“Eh eh, modelmu udah kayak politisi aja, Ran. Ini namanya curi-curi pencitraan, Ran. Benar nih mau kubongkar rahasiamu?”

“Ayo, bongkar aja!” Jakiran menantang. Dia sudah terlanjur emosi karena istrinya disangkutpautkan dalam seminar kenegaraan itu.

“Istrimu itu, hamilnya tidak sama kamu to, Ran?” ucap Tukiman pelan, sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Jakiran. Dia sengaja ingin memancing emosi Jakiran.

“Apa? Yang bener, Kang?” Tukijo iku terkejut mendengar statemen Tukiman.

“Iya, semua orang di pasar juga pada ngomong!” lanjut Tukiman.

Jakiran berdiri, nafasnya sengal dan tangannya menggenggam. Dalam mode slow motion terlihat, tangan Jakiran melayang ke arah wajah Tukiman. Tuminah yang sedang keluar membawa secangkir kopi untuk Tukijo menjerit, “Aaauuwww!” cangkirnya jatuh ke tanah. Sedangkan Tukiman dengan cekatan menghindar dan menangkis tangan Jakiran.

“Sabar, Ran! Sabar!” Tukijo berusaha meredam emosi Jakiran.

“Aduh, ini gimana to? Boleh ngopi di sini, tapi ojo jotos-jotosan yo Kang yo!” ujar Tuminah sambil memungut cangkir yang jatuh tadi.

“Kamu kalau bicara jangan ngawur, Kang! Bisa saya tuntut nanti di pengadilan!” Jari telunjuk Jakiran menunjuk ke wajah Tukiman.

“Woeh, udah kayak Berkat Ngabbas kamu sekarang!” Tukiman tersenyum sinis. Dan itu membuat Jakiran kian tersulut emosi.

Melihat gelagat Jakiran yang seperti hendak memukul Tukiman lagi, dengan cepat Tukijo mengambil tempat di antara kedua orang itu.

“Tenang, Kang, Tenang! Apa kata orang nanti, kalau diskusi kalian harus terkotori dengan perkelahian. Sabar!” Tangan kanan Tukijo menghadang Jakiran, sedangkan yang kiri menghadang Tukiman.

“Ra nggagas!” jawab Jakiran.

“Sudahlah, Kang, sekarang biarkan Kang Tukiman memberi penjelasan lebih lanjut mengenai statemennya itu!” Tukijo masih berusaha meredam keadaan. Tukiman hanya terkekeh melihat Jakiran yang masih tersulut emosi.

“Mau menjelaskan apa lagi? Sudah jelas-jelas dia telah memfitnah istri saya.”

“Satu lagi, Ran, istrimu itu sebenarnya ahli dalam ma lima....” Tukiman justru kembali ingin membuat Jakiran lebih emosi. Semakin Jakiran emosi, semakin senanglah hatinya.

“Sampeyan benar-benar kurang ajar, Kang!” Jakiran kembali berdiri. Kali ini kakinya yang masih belepotan tanah sukses mengenai dada Tukiman. Keadaan menjadi sangat genting sekali. Tukijo yang berada di antara mereka, tak bisa menahan laju Jakiran. Emosinya yang memuncak, membuatnya mampu mengerahkan seluruh tenaganya untuk menghabisi Tukiman.

Jeritan dan teriakan Tuminah tak lagi bisa didengar oleh Jakiran. Yang ada hanyalah keinginannya untuk memberi pelajaran pada Tukiman. Tukiman yang terkena tendangan A Jakiran, ikut terpancing emosinya. Kopinya yang masih belum terminum itu ia siramkan ke wajah Jakiran. Sontak wajah Jakiran basah kuyup kehitam-hitaman.

Perkelahian pun terjadi. Mereka berguling-guling hingga ke luar warung. “Dasar kurang ajar!!” teriak Jakiran. Mereka masih terus saja berusaha melepaskan pukulannya masing-masing. Suasana makin riuh ketika warga berhamburan untuk melihat apa yang sedang terjadi. Pak Darta yang kebetulan sedang melintas ikut berhenti di sana.

“Heh heh! Ada apa ini!” tanya Pak Darta. Matanya tertuju pada Tukiman dan Jakiran. Pak Darta hanya geleng-geleng kepala. Ia seperti tak percaya ternyata ada warganya yang seperti itu. Tukiman terlihat sedang menindih tubuh Jakiran, sambil memegangi kedua tangan Jakiran. Saat Tukiman menoleh, Pak Darta masih geleng-geleng kepala. Tukiman pun menyadari posisinya dengan Jakiran bisa saja membuat Pak Darta salah paham. Ia segera bangkit dan mendekati Pak Darta.

“Semua tidak seperti yang sampeyan lihat, Pak! Aku tak bermaksud apa-apa sama dia. Dia duluan yang mulai, Pak!” Tukiman mencoba menjelaskan.

 “Kalau tidak ada apa-apa, kenapa sampeyan menindih Jakiran?”

“Tidak, Pak. Dia yang mulai duluan!” Jakiran tak mau kalah.

“Ah, sudah-sudah. Ayo masuk lagi ke warung. Mari kita bicarakan baik-baik di sana!” ujar Pak Darta.

Mereka pun kembali duduk di dalam warung. Namun kali ini Tukiman berada di tempat yang lebih jauh dari Jakiran.

“Sudah, sekarang silakan Pak Jakiran menjelaskan dulu, apa sebenarnya yang sedang terjadi?”

“Tukiman telah memfitnah istri saya, Pak!”

“Memfitnah gimana?”

“Dia bilang istri saya hamil tidak sama saya, Pak!”

“Apa benar itu, Pak Tukiman?”

“Benar, Pak.”

“Sekarang tolong jelaskan, kenapa Pak Tukiman berkata seperti itu?”

“Ya nggak kenapa-napa, Pak. Masalahnya dimana?”

“Lho, kok?”

“Ya jelaslah istri Jakiran hamil tidak sama Jakiran. Pasti dia sendiri yang hamil, Pak. Masak Jakiran ikut-ikutan hamil?” Tukiman menjelaskan.

Semua yang berada di sana tertawa. Tuminah bahkan tertawa sampai terguling-guling.

“Hahaha... Sekarang gimana Pak Jakiran? Masih ada masalah dengan penjelasan Pak Tukiman?”

“A..u...a...u..” Jakiran.

“Ya udah Pak Jakiran. Lain kali kalau mau menanggapi sesuatu, coba dipahami dulu dengan baik. Jangan mudah erosi!”

“Emosi, Pak!” sahut Tukijo.

“Ya itu maksud saya...”

Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "Tukiman dan Jakiran, Balada di Warung Kopi"

 
Copyright © 2015 Sesuatu - All Rights Reserved
Template By Kunci Dunia
Back To Top